ADAT DAERAH DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

SOSIALISASI PENERAPAN

ADAT DAERAH DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

Oleh: Drs. Hi. SYAMSUL MOKOGINTA


I. Pendahuluan

Masyarakat Bolaang Mongondow sebelum pemekaran terdiri dari 4 etnik yaitu:

  1. Etnik Mongondow
  2. Etnik Kaidipang/Mokapok
  3. Etnik Bintauna
  4. Etnik Bolango

Keempat etnik ini memiliki adat dan kebiasaan sendiri-sendiri, pemerintahan sendiri selama berabad-abad, dimana adat kebiasaan tersebut secara turun-temurun dihormati dan dipatuhi. Dengan demikian keepat etnik tersebut merupakan satuan masyarakat adat yang memiliki ciri dan identitas sendiri sebelum kedatangan bangsa Eropa (Spanyol, Portugis dan Belanda) yang menjajah negeri-negeri dan kerajaan-kerajaan di Nusantara termasuk keempat etnik/kerajaan tersebut.

Ciri masyarakat adat tersebut masih sangat kental sampai saat ini dapat dilihat dari berbagai upacara seperti tata cara perkawinan, upacara kematian atau kedukaan, prosesi penjemputan tamu kehormatan, etiket sopan santun, pemberian gelat adat kepada pejabat tinggi negara dan sebagainya.

Sebelum masuknya agama Islam, masyarakat Bolaang Mongondow dan raja-rajanya masih menganut Animisme dan raja-raja selanjutnya menganut agama Kristen Katholik yang dibawa oleh bangsa Eropa (Spanyol dan Portugis) yang menyebarkan agama tersebut sampai di kepulauan Philipina terus menyebar ke selatan, tanah Minahasa, Bolaang Mongondow dan Maluku. Oleh sebab itu raja-raja Bolaang Mongondow setelah kedatangan bangsa Eropa umumnya dinamakan menurut agama Kristen Katholik seperti Fransiscus Manoppo, Salomon Manoppo, Eugenius Manoppo, Christofel Manoppo, Cornelius Manoppo dan lain sebagainya yang akan diuraikan lebih lanjut.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, raja-raja Mongondow bergelar Punu’ (Tuang) dimana tercatat ada 6 (enam) raja bergelar Punu’ mulai dari tahun 1400 – 1650 sebagai berikut:

  1. Punu’ Mokodoludut                1400 – 1460
  2. Punu’ Yayubangkai                 1460 – 1480
  3. Punu’ Damopolii                     1480 – 1510
  4. Punu’ Busisi                            1510 – 1540
  5. Punu’ Mokodompit                 1560 – 1600
  6. Punu’ Tadohe                          1600 – 1650

Punu’ Damopolii beristerikan Putri Minahasa bernama Ganting-ganting adalah seorang Putri dari keluarga Tiwow di Buyungon dengan membayar Yoko’/Tali’ berupa tanah dari sungai Ranoyapo, Lewet sampai dengan muara sungai Poigar seluas 720 Km2. Pembayaran Yoko’ tersebut diketahui oleh Walak Minahasa yang mengetahui persis bahwa Yoko’ tersebut harus menuruti adat Bolaang Mongondow. Selanjutnya di zaman Punu’ Mokodoludut dibuatlah kesepakatan para Bogani di tanah Mongondow bahwa:

  1. Mokodoludut dan keturunannya dari generasi-kegenerasi harus menjadi Raja
  2. Barangsiapa yang menentang Raja akan dikenai kutukan:
    • Butungon (kena kutukan)
    • Rumondi na’ Buing (menjadi hitam seperti arang)
    • Dumarag na’ Kolawag (menjadi kuning seperti kunyit)
    • Yumiow na’ Simuton (larut seperti garam)
    • Kimbuton in Tolog (ditelan arus air)
    • Doroton in Motonyanoy (ditindas oleh Dewata)
    • Raja bergelar Punu’ atau Tuang dan anak-anaknya diberikan gelar bangsawan Abo’ untuk laki-laki dan Boki’ atau Bua’ untuk perempuan.

Ketentuan ini berlaku terus-menerus dan sangat dipatuhi oleh masyarakat Mongondow sampai adanya perubahan oleh Punu’ ke-enam (Punu’ Tadohe) yang membagi masyarakat Bolaang Mongondow atas enam strata, yaitu”

1) Mododatu

2) Kohongian

3) Simpal

4) Nonow

5) Tahig

6) Yobuat

Ditegaskan pula bahwa apabila rakyat memanen padi jagung harus menyerahkan beberapa gantang kepada Raja, tanaman pisang yang pertama berbuah harus diserahkan kepada raja, apabila seseorang rakyat yang kaya meninggal dunia maka sepertiga dari kekayaannya sebelum dibagi kepada keluarga pewaris diserahkan kepada raja. Apabila raja mangkat atau permaisuri, maka seluruh rakyat diwajibkan memakai pakaian hitam, tidak boleh memasang lampu pada malam hari sebelum jam 8 malam dan lain-lain keistimewaan.

II. Sejarah Raja-Raja

Adapun raja-raja Bolaang Mongondow yang bergelar Raja setelah berakhirnya gelar Punu’ adalah :

    • Raja Loloda Mokoagow atau Datu Binangkang 1653 – 1694

      Raja ini terkenal agresif dan menyerang pulau Manado Tua sehingga rakyat Manado Tua lari ke Pulau Sangir dan tinggal 52 orang yang sakit-sakitan ditinggalkan kemudian diangkut oleh Gubernur Belanda Padsburg dan dibawa ke Sindulang.

      • Raja Yakobus Manoppo, putra Loloda Mokoagow hasil perkawinan dengan putri Minahasa yang kemudian menjadi Raja Mongondow pada tahun 1694 – 1695.
        • Raja Fransiscus Manoppo 1695 – 1731
          • Raja Salomon 1735 – 1748, Raja ini melindungi orang-orang Minahasa yang lari ke Bolaang Mongondow akibat penindasan seorang Hukum Besar di Minahasa dan menetap di Bolaang dan Mariri. Oleh Residen Manado, penduduk tersebut diminta dipulangkan ke Minahasa tetapi ditolak oleh Raja Salomon. Disamping itu Raja Salomon bertengkar soal perbatasan dengan Raja Kaidipang yang menyebabkan Raja tersebut dipenjarakan oleh Belanda di Ternate kemudian pindah ke Batavia selanjutnya dibuang ke Afrika Selatan (Tanjung Harapan) selama ± 8 tahun. Sepeninggalnya Raja Salomon karena dibuang ke Afrika Selatan maka di Bolaang Mongondow timbul kerusuhan bahkan pembunuhan-pembunuhan politik oleh beberapa keluarga raja yang ingin menjadi raja tetapi mendapat perlawanan yang kuat dari Jogugu Yambat Simon Damopolii yang didukung rakyat mendesak kepada pemerintah Belanda untuk mengembalikan Salomon Manoppo ke Bolaang. Permintaan tersebut dipenuhi dengan janji bahwa bila Salomon hidup. Raja Salomon tiba di Bolaang pada 15 Maret 1756 dan diangkat kembali menjadi raja pada tanggal 10 Agustus 1764.
            • Raja Egenius Manoppo 1764 – 1770 (Raja ini akhirnya menjadi gila dan digantikan oleh raja ke-enam)
                • Raja Christofel Manoppo 1767 – 1770
                  • Raja Markus Manoppo 1770 – 1773
                    • Raja Manuel manoppo 1779
                      • Raja Cornelius Manoppo 1825 – 1829
                        • Raja Ismail Cornelis Manoppo 1825 – 1829
                          • Raja Yakobus Manuel Manoppo 1833 – 1858 (Raja ini masuk agama Islam)
                            • Raja Adreanus Cornelis Manoppo 1858 – 1862
                              • Raja Yohanes Manuel Manoppo 1862 (Penggantinya tidak ada selama beberapa tahun hingga diangkat Raja Abraham Sugeha 1886 – 1893)
                                • Raja Ridel Manuel Manoppo 1893 – 1905
                                • Raja Datu Cornelius Manoppo 1905 – 1928
                                • Raja Laurens Cornelius Manoppo 28 Juni 1928
                                • Raja Henny Yusuf Cornelius Manoppo 4 September 1947 – Juni 1950

                                Catatan :

                                Raja Laurens Cornelius Manoppo di non-aktifkan dan untuk menjalankan pemerintahan diangkat Van Bieren dibantu oleh dua orang pengawas yaitu H.D. Manoppo dan Mokodompit.

                                III. Asal-Usul Orang Mongondow

                                Orang Mongondow menurut Wilken dan Y.A.T. Schwars (1867) terdiri dari 5 (lima) suku/Sub etnis, yaitu:

                                1. Intau Polian, diperkirakan bermukim di daerah Lolayan (Intau in Tudu Polian)
                                2. Intau Buluan, diperkirakan bermukim disekitar Kelurahan Mongondow sekarang ini dan sekitarnya, mengambil nama seorang Bogani Bulu Mondow (Ismail Tolat, 1975).
                                3. Intau Lombagin, disekitar Inobonto/muara sungai Ongkag Mongondow sekarang ini dan sekitarnya.
                                4. Intau Binangunan, bermukim disekitar lereng gunung Ambang.
                                5. Intau Dumoga, sekitar gunung Bumbungon.

                                IV. Adat Kebiasaan Orang Mongondow

                                Sampai sekarang ini beberapa bagian Adat Bolaang Mongondow masih dipatuhi dan dihormati masyarakat. Antara lain, ketika mengadakan pesta pernikahan, upacara kematian (Tonggoluan) dan tata cara berpakaian, upacara menjemput pengantin wanita oleh keluarga pengantin pria, penjemputan tamu kehormatan dan pemberian gelar kehormatan.

                                Upacara adat pernikahan yang dilakukan di desa-desa Bolaang Mongondow pada intinya tetap sama meskipun terdapat perbedaan-perbedaan dalam pelaksanaannya, dimana banyak bagian-bagian yang tidak berlaku lagi.

                                Upacara perkawinan/pernikahan adat tersebut dalam bentuk tertulis, telah ditulis oleh W. Dunnebier seorang misionaris (Zendeling) asal Belanda yang menelliti daerah ini ± 25 tahun (1905 – 1939) dengan judul asli “Verlopen en Trouwen in Bolaang Mongondow” tahun 1935. Upacara perkawinan ini diterjemahkan oleh B. Ginupit dalam Bahasa Indonesia “Pertunangan dan Perkawinan” yang menceritakan perkawinan seorang pemuda bernama Singkuton anak dari Moonik dan istrinya Angkina dengan seorang perempuan bernama Dayag anak dari Abadi dan istrinya Ibud.

                                Ringkasnya prosesi perkawinan tersebut adalah sebagai berikut:

                                1. Meminang, (melamar) – moguman don mobuloi
                                2. Bila pertunangan diterima, dilanjutkan oleh tokoh-tokoh adat (guhanga) meminta imbalan (yoko’). Pada jaman dahulu yoko’ tersebut bisa berupa barang seperti sebidang tanah berisi tanaman kelapa, (lontad in bango’), rumpun rumbia, ternak terdiri dari sapi, kuda, maupun barang-barang berharga lainnya dan uang.
                                3. Guat, berupa pemberian pihak keluarga calon pengantin pria untuk memisahkan (guat) calon pengantin wanita dari ibu dan bapaknya.
                                4. Uku’ ukud, pemberian bantuan biaya dalam bentuk uang sesuai kesepakatan antar keluarga.
                                5. Taba’ adalah utusan pihak keluarga wanita kepada keluarga pihak pria bahwa seorang pemuda bernama “A” telah meminang seorang wanita dari keluarga bernama “B”.
                                6. Mahar, pemberian yang diminta oleh calon pengantin wanita kepada calon pengantin pria (hal ini menurut syariat Islam dalam bentuk cincin atau apapun yang diminta oleh pengantin wanita).
                                7. Upacara Pernikahan, pembacaan Ijab Qabul oleh orang tua pihak wanita (semacam penyerahan tanggungjawab memelihara/menjaga pengantin wanita dengan membayar sejumlah uang tunai (Akad Nikah)
                                8. Gama’, menjemput pengantin wanita oleh keluarga pengantin pria yang terdiri dari 13 (tigabelas) tahapan sebagai berikut:

                                1)      Tompangkoi in Gama’ – Persiapan

                                2)      Lampangan kon tutugan in lanag – melangkah ke tirisan atap.

                                3)      Lolanan kon tubig – menyeberang sungai.

                                (ketiga tahap pertama ini dilakukan di rumah pengantin wanita).

                                4)      Poponikan kon tukad – menaiki tangga rumah

                                5)      Lampangan kon tonom – melangkah ke pintu rumah

                                6)      Puat in kaludu’ – membuka kerudung

                                7)      Pilat ini siripu – melepaskan sepatu

                                8)      Pilat in paung – menutup payung

                                9)      Pinogapangan – pendampingan

                                10)  Pinomama’an – makan sirih pinang

                                11)  Pinonduya’an – meludah (setelah makan sirih)

                                12)  Pinogiobawan/pinolimumugan – makan dan berkumur

                                13)  Pinobuian – pulang/kembali kerumah pengantin wanita

                                V. Upacara Adat Kematian

                                Bila seorang anggota keluarga meninggal dunia, maka diadakan upacara adat kematian sebagai berikut:

                                1. Pemberitahuan kepada khalayak/masyarakat bahwa ada anggota keluarga/warga kampung yang meninggal dunia dengan memukul gong (golantung) ke seluruh kampung. Di rumah orang yang meninggal dipasang Arkus berupa hiasan dari daun enau muda yang dipasang pada lengkungan sebatang bambu dibelah empat dan dibentuk kerucut masing-masing belahan ditempatkan pada empat sisi yang dipasangi tiang bambu (matubo).
                                2. Bila yang meninggal itu suami maka anggota keluarga pihak suami datang dengan barang-barang hantaran boleh juga berupa uang ditaruh di atas piring antik, bersama sisir, bedak, cermin, dipimpin oleh seorang guhanga. Sedangkan istri/janda dari suami yang meninggal duduk disamping persemayaman jenazah (tonggoluan) dan dengan bahasa Mongondow (halus) guhanga mengatakan: “wahai ibu/saudari kali ini anda telah putus hubungan dengan suami bukan karena cerai tetapi atas kehendak Ilahi (bontowon) tetapi masih ada hubungan tanda mata berupa anak-anak dan cucu”. Sesudah itu diserahkan piring antik untuk menampung air mata.

                                Langkah berikut diserahkan bungkusan berupa uang dan istri/jandanya diajak berjalan ke arah jendela dan guhanga tersebut berkata lagi: “wahai ibu/saudari lihatlah betapa luasnya alam raya di luar sana, mulai saat ini tidak ada lagi halangan bagimu untuk melakukan kegiatan selanjutnya”.

                                Bagi orang Mongondow yang beragama Islam biasanya setelah pemakaman diadakan pengajian selama 3 (tiga) hari, 7 (tujuh) hari dan sesudah itu tonggoluan 9tempat persemayaman jenazah) dibongkar dan diberi sejenis Itu-itum, monginsingog yang dilakukan oleh seorang Iman sambil membakar kemenyan berkata: “wahai Almarhum, sekalipun engkau telah dimakamkan, kami tetap mengenangmu, namun kita sudah berbeda alam/alam nyata dan alam arwah, Anda pasti melihat kami karena penglihatanmu sangat terang sekarang, tetapi demi kehidupan kami selanjutnya maka janganlah bersedih hati tempat tidurmu kami akan benahi/bongkar karena Anda telah berpindah ke alam gaib, sedangkan kami masih melakukan tugas kehidupan nyata di dunia dan seterusnya”.

                                Selesai upacara itu yang biasa dilakukan adalah Hataman Qur’an, maka upacara selesai dan para undangan/pelayat pulang ke rumah masing-masing.

                                VI. Upacara Adat Penjemputan Tamu dan Pemberian Gelar Kehormatan

                                Apabila ada seorang pembesar negeri berkenan mengunjungi suatu tempat atau desa/kota, maka seluruh kota/desa dipersiapkan sedemikian rupa kebersihan/kerapihan dengan memasang umbul-umbul, arkus disetiap rumah dan matubo di tempat penjemputan.

                                Ketika saat tamu pembesar negeri itu tiba, diadakan jemputan berupa Tari Perang/Mosau oleh sekelompok penari/penjemput yang bersenjatakan tombak dan perisai yang dikomandani oleh seorang komandan diiringi dengan bunyi tetabuhan (tambur). Pada tempat yang sudah ditentukan, seorang guhanga dan pemangku adat mengucapkan Itu-itum sejenis ucapan selamat datang dan doa. Setelah itu tamu pembesar negeri tersebut dipersilahkan masuk ke dalam rumah dan duduk di tempat yang sudah ditentukan. Bila pembesar negeri itu seorang Kepala Negara, maka akan diberi gelar yang tinggi “Ki Tule Molantud”, “Ki Sinungkudan”, Tonawat dan diberi hadiah berupa Pedang Mongondow yang berlapis emas pada hulu pedang dan sarung pedang (guma’) terbuat dari kayu hitam/ebony yang memakai ikat (tombasi) berupa emas. Biasanya pemberian tersebut diletakkan dalam kotak kaca yang telah disediakan dan untuk “penawar” agar pedang itu tidak membahayakan pemakai kelak, maka Sang Pembesar Negeri harus memberi sekeping uang logam bernilai seratus atau sekarang lima ratus Rupiah kepada pemberi hadiah. Upacara kemudian dilanjutkan dengan penjemputan resmi seremonial.

                                VII. Kesimpulan

                                Selama ± 650 tahun Suku Mongondow telah berkali-kali menerapkan ketentuan adat sebagai berikut:

                                14.  Zaman Pemerintah Mokodoludut, Bogani-bogani Mongondow menyepakati ketentuan bahwa Punu’ Mokodoludut (Tuang in Bolaang Mongondow) diakui sebagai Punu’ (Raja) dan keturunannya dari generasi ke generasi memiliki hak menjadi raja.

                                Disepakati pula bahwa barang siapa yang melawan/melanggar perintah Raja, akan mendapatkan kutukan (laknat) sebagai berikut:

                                1. Butungon (dilaknat/kualat)
                                2. Rumondi na’ Buing (menghitam bagai arang)
                                3. Dumarag na’ Kolawag (menguning bagai kunyit)
                                4. Tumonop na’ Lanag (meresap bagai air tirisan)
                                5. Kimbuton in Tolog (ditelan arus)
                                6. Doroton in Motonyanoi (ditindas oleh Dewata)

                                15.  Zaman Pemerintah Punu’ Tadohe (1600 – 1650) Masyarakat Bolaang Mongondow dibagi atas lapisan-lapisan (Stratifikasi) sebagai berikut:

                                1) Mododatu

                                2) Kohongian

                                3) Simpal

                                4) Nonow

                                5) Tahig

                                6) Yobuat

                                16.  Zaman Raja Yakobus Manuel Manoppo ada kesepakatan di Bolaang Mongondow pada bulan September 1849 dimana diatur status anak/keturunan dari perkawinan campuran antara bangsawan dan non-bangsawan, aturan tentang tata cara bepakaian serta hukuman bagi pelanggar pidana seperti membunuh, mencuri, berzina, dan lain-lain, keseluruhan aturan/kesepakatan itu berjumlah 67 pasal.a

                                17.  Zaman sekarang ini, sebagian besar hukum adat Bolaang Mongondow telah ditinggalkan orang dan yang tersisa serta masih berlaku adalah adat perkawinan, upacara adat kematian dan penjemputan adat serta pemberian/ penghargaan/penobatan gelar adat bagi pejabat tinggi negara.

                                Kotamobagu,   29 Juni 2010

                                Drs. Hi. Sy. Mokoginta

                                Iklan

                                Sistem “Gotong Royong” Orang Mongondow

                                Sejak semula, masyarakat Bolaang Mongondow mengenal tiga macam cara kehidupan bergotong royong yang masih terpelihara dan dilestarikan terus sampai sekarang ini, yitu :
                                1. Pogogutat, potolu adi’
                                2. Tonggolipu’
                                3. Posad (mokidulu)

                                Tujuan kehidupan bergotong royong ini sama, namun cara pelaksanaaannya agak berbeda.
                                Pogogutat, potolu adi’ : lebih bersifat kekeluargaan. Pogogutat berasal dari kata utat yang berarti : saudara (kandung,sepupu). Potolu adi’ asal kata : Tolu adi’ (motolu adi’) yang berarti : ayah, ibu dan anak-anak (anaka beranak atau tiga beranak).
                                Contoh pogogutat : bila ada keluarga yang hedak mengadakan pesta pernikahan anak, maka sesudah didapatkan kesepakatan tentang waktu pelaksanaanya, disampaikanlah hasrat tersebut kepada sanak keluarga, bahkan kepada seluruh anggota masyarakat dalam satu desa. Dua atau tiga hari sebelum pelaksanaan pernikahan, berdatanganlah kaum keluarga, tetangga, warga desa, dibawah koordinasi pemerintah, guhanga atau tua-tua adat, ketua rukun dan lain-lain membantu kelancaran pelaksanaan pesta. Kaum pria membawa bahan seperti : bambu atap rumbia, tali rotan, tali ijuk, tiang pancang bercabang dan bahan-bahan lain untuk mendirikan bangsal. Ada yang membawa gerobak berisi kayu api, tempurung, sabut kelapa dan lain-lain untuk bahan pemasak. Pada saatnya mendekati hari pernikahan, para pemuda remaja pria dan wanita datang membantu meminjam alat-alat masak, alat makan, perlengkapan meja makan, menghias bangsal, puadai, dan lain-lain. Ada yang membantu persiapan di dapur, mengolah rempah-rempah dan lain-lain. Suasana diliputi kegembiraan, tawa dan gelak terdengar. Pada saat pelaksanaan pesta nikah, para remaja dan pemuda itu membantu pelayanan kepada para tamu undangan. Kaum wanita pada sore hari menjelang malam berdatangan membawa bahan : beras, ayam, minyak kelapa, minyak tanah, rempah-rempah, gula putih, gula merah dan lain sebagainya keperluan dapur. Semua bahan yang dibawa baik oleh kaum pria ataupun oleh kaum wanita, adalah berupa sumbangan ikhlas, tanpa menuntut imbalan karena rasa kekeluargaanyang besar dan toleransi yang tinggi 9unsur persatuan dan kesatuan demi kesjahteraan bersama).
                                Tonggolipu’ : asal kata lipu’ yang berarti : desa, kampung, tempat kediaman. Bila ada rencana pembangunan dalam desa (sekolah, rumah ibadah, jalan, jembatan, rumah tempat tinggal dan lain-lain), maka seluruh anggota masyarakat secara serentak mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan dimaksud tanpa paksaan, tapi atas kesadaran sendiri. Kaum wanita datang membawa makanan dan minuman. Dalam kegiatan seperti itu bahan dan ramuan sudah disediakan terlebih dahulu seperti bahan bangunan dan lain-lain. Bila ada anggota masyarakat yang meninggal, maka para tetangga serentak berkumpul membuat bangsal dan menyediakan tempat duduk dan membantu pekerjaan pemakaman sampai selesai. Dahulu adalah merupakan kebiasaan, keluarga datang berkunjung ke rumah duka untuk menghibur dengan mengadakan permainan tertentu seperti : monondatu, mokaotan, mokensi, monangki’, dan lain-lain. Kegiatan seperti itu diadakan mulai 7 sampai 14 malam, selama tongguluan (tempat tidur berhias) masih belum dikeluarkan. Kini acara-acara seperti itu diisi dengan kegiatan-kegiatan agama.
                                Posad atau mokidulu : Posad berarti berarti saling membantu . Umumnya posad ini sudah berbentuk organisasi. Koordinator membentuk organisasi dengan sejumlah anggota sesuai keperluan. Anggota posad mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dalam arti saling berbalasan. Bkerja membersihkan kebun bersama-sama dengan ketentuan, setiap anggota kelompok akan mendapat giliran kebunnya dibersihkan. Dalam posad biasanya ada sanksi, yaitu anggota yang tidak aktif akan dikeluarkan dari keanggotaan, beberapa ketentuan sesuai kesepakatan, misalnya : setiap anggota posad dalam melaksanakan pekerjaan ada yang membawa bekal sendiri, tapi agak berbeda dengan mokidulu (minta bantuan), seseorang minta bantuan tenaga dari sejumlah teman untuk menyelesaikan sesuatu pekerjaan, ada yang bekerja secara sukarela, ada pula yang mengharapkan untuk dibalas.

                                Sumber: http://www.geocities.com/potabalink/bag9.htm

                                Lahirnya Punu’ Molantud

                                Bogani suami isteri Kueno dan Obayow dalam usaha mereka pergi menangkap ikan di sungai, tidak berhasil. Namun mereka senag juga, setelah mereka memungut sebutir telur di atas kapar (timbunan ranting-ranting kayu) yang sedang hanyut di sungai. Secara kebetulan mereka melihat seekor burung duduk yang baru saja terbang dari kapar itu, sehingga mereka menganggap bahwa telur itu adalah telur burung yang baru saja terbang. Benda yang dianggap telur itu, ternyata adalah kantung bayi yang lahir masih terbungkus dari rahim ibunya. Karena kelahiran itu dianggap aneh, maka kantung itu diletakkan oleh orang tuanya di atas kapar yang sedang hanyut di sungai. Yang kemudian dipungut oleh Kueno dan Obayow. Oleh karena anak yang lahir itu dianggap menetas dari telur burung, maka para bogani, pimpinan seluruh kelompok masyarakat bersepakat untuk mengangkat anak itu menjadi Punu’ Molantud, yaitu pimpinan tertinggi atas seluruh kelompok masyarakat yang tersebar di daerah Bolaang Mongondow. Anak itu diberi nama Mokodoludut, yang berarti menyebabkan bunyi banyak kaki yang berjalan (nodoludut = bunyi gaduh kaki banyak yang berjalan). Banyak orang yang datang melihat bayi yang lahir luar biasa itu, telah turun hujan lebat disertai bunyi guntur sambung menyambung dan halilintar sambar menyambar.
                                Sebagai catatan perlu diinformasikan bahwa pemberian nama kepada bayi pada masa dahulu, disesuaikan dengan situasi atau peristiwa terjadi bertepatan dengan kelahiran bayi itu, karena penduduk belum mengenal huruf, sehigga belum ada pencatatan tanggal kelahiran. Anak yang lahir bertepatan dengan suatu peristiwa besar diberi nama Ododai = bersamaan. Anak yang sakit-sakitan sejak lahir diberi nama : Ki Napi’I = sakit-sakitan. Yang bertubuh kecil diberi nama : Kandeleng = si kecil; yang lahir ketika salah seorang dari orang tuanya meninggal, diberi nama : sinala’an = ditinggalkan. Nama benda, tumbuhan, hari, hewan dan sebagainya juga dipakai untuk memberi nama bayi, misalnya : Kompe’ = bakul; Kobisi’ = bakul besar; Apat = bengkalai; Longgai = kapar; Uoi = rotan; Boyod = tikus; Bonok = rumput.
                                Mokodoludut adalah punu’ Molantud yang diangkat berdasar kesepakatan seluruh bogani. Dalam sejarah pemerintahan di Bolaang Mongondow, Mokodoludut tercatat sebagai raja (datu yang pertama di Bolaang Mongondow, walaupun penggunaan istilah datu atau raja mulai dikenal sejak raja Tadohe (Sadohe) yang memerintah pada tahun 1602 karena pengaruh istilah luar, ratu, datu atau latu, yang berarti raja.
                                Sebelum Tadohe, setiap pimpinan tertinggi pemerintahan yang diangkat dari keturunan Mokodoludut selalu digelar Punu’ Molantud atau Tule Molantud atau Tomunu’on. Sejak Mokodoludut memerintah, masyarakat mulai mengenal kesenian antara lain seni sastra, yaitu itu-itum, semacam do’a yang diucapkan misalnya pada pelantikan Punu’ Molantud atau pejabat tinggi lainnya. Juga Odi-odi, semacam sumpah, serta jenis vokal antara lain totampit, yaitu sastra bermelodi yang dilagukan oleh para bogani atau oleh penduduk yang pergi ke rantau memasak garam, ke hutan mencari damar dan lain-lain, karena mereka harus menempuh karak jauh dengan berjalan kaki.
                                Salahsatu sastra lagu aimbu yang dinyanyikan oleh orang tua angkat Mokodoludut, yaitu Kueno dan Obayow adalah :
                                Ki Inalie no puyut = Inalie yang memungut
                                Ki Amalie notompunuk = Amalie yang memangku
                                Notakoi kon loto lanut = dimasukkan dalam lanut
                                Pitu no singgai no uput = tujuh hari genap
                                Dinongog mai nogolotup = terdengar bunyi meletus
                                Sinarap bo sinondudut = dilihat dan diteliti
                                Na’anta umatbi’ alus = ternyata mahluk halus
                                Nobiag moyutu-yutuk = hidup tubuhnya kurus
                                A mongula mokitayuk = ingin diobati (monayuk)
                                Moki aimbu no uput = dengan cara aimbu lengkap
                                Na’a bo inaidan no uput = kini selesai dikerjakan
                                Tangoimu ing ki Mokodoludut = namamu adalah Mokodoludut.

                                Sumber: http://www.geocities.com/potabalink.htm

                                Nenas dan keunikannya di Totabuan…

                                Tanaman nenas merupakan komoditi pertanian unggulan di Kabupaten Bolaang Mongondow. Sentra produksi buah nenas terbesar terdapat di Kecamatan Passi Timur. Desa Lobong, Poyuyanan dan Muntoi dapat kita lihat hamparan tanaman nenas yang sangat menggiurkan. Hasil panen sebagian dijual ke pasar dan sebagian lagi langsung dibeli oleh pedagang buah yang akan menjual kembali di daerah lain.

                                Nenas Lobong terkenal manis dan segar sehingga banyak diburu oleh masyarakat luar daerah, terutama menjelang hari besar keagamaan (Idul Fitri, Natal dan Tahun baru). Oleh karena terkenal dan banyak dicari, maka nenas menjadi maskot di Lobong selain kapur. Pemerintah setempat menetapkan bahwa buah nenas merupakan komoditi unggulan dan untuk itu dibuat sebuah tugu/monumen nenas yang cukup besar terbuat dari ribuan nenas yang disusun sedemikian rupa menjadi sebuah nenas raksasa. Namun tugu/monumen ini sekarang sudah tidak ada lagi, sehingga kita tidak bisa melihat yang seperti ini lagi…kapan ya?

                                Monumen/Tugu Nenas Raksasa

                                Monumen/Tugu Nenas Raksasa

                                Mahasiswa KKN Unsrat pun sebelumnya telah membuat monumen nenas dari beton yang besarnya “wah”. Monumen nenas ini dapat dilihat di sebelah kanan jalan saat memasuki desa Lobong.

                                tugu-nenas-lobong

                                Melihat Lebih dekat Pengendara Bentor di Kotamobagu

                                Malam Minggu (Sabtu,, 7/2) udara di Kotamobagu sangat dingin. Para pengendara bentor dengan setelan jaket dan pakaian yang berbeda pun nongkrong di sudut-sudut pertokoan di kawasan kota. Ada yang minum saraba (air jahe), menyantap mie bakso, mendengar musik dari ‘sound system’ bentor, ada juga yang duduk santai di atas bentor sambil utak atik HP.

                                300pxbentorat9

                                Para pengendara bentor ini ternyata punya profesi sampingan. Meski rata-rata sudah berkeluarga, ternyata ada dari mereka yang doyan mengoleksi cewek ABG. Bukan hanya untuk ‘keperluan sendiri’, tapi bisa juga untuk ‘disewakan’ ke orang lain, khususnya orang berduir seperti pejabat. Untuk menyimpan rapi aksi mereka itu, aksinya dilakukan pada malam hari atau di atas jam 12 malam. Untuk menutupi ‘dosa’,  mereka pun banyak alasan kepada istri, yang sah. “Yang penting pulang di rumah bawa martabak kong ada doi lebih dari seratus ribu,’’ bisik Yan, salah satu pengendara bentor.
                                Wajar jika cewek-cewek ABG, yang rata-rata pelajar SMA itu, suka berhubungan dengan pengendara bentor. Selain mendapat servis bagus dari sang pengendara bentor, juga seringkali ketiban ‘rezeki’ dari oknum pejabat. Maklum, bayaran oknum pejabat sangat memuaskan.
                                Nah, untuk mencari lokasi aman untuk beraksi, pengendara bentor tahu cara yang rapi, supaya tak kena razia polisi. Mereka pun berani antar jemput kepada sang cewek, sekaligus memilih lokasi yang aman untuk indehoi.
                                Pihak Polres Bolmong ternyata sering mendapati kasus ini. “Kalau ada yang tertangkap pasti akan kami bina, bila perlu diserahkan ke instansi terkait,’’ kata Kapolres Bolmong AKBP Set S Lumowa SIK melalui KBO Reskrim Iptu Slamet.

                                Oleh: Ronald Mokoginta

                                Sumber: Manado Post, 10 Pebruari 2009