SBY Beri Signal Berduet JK Lagi

Jakarta, Harian Komentar
Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK) sudah terbuka menyatakan keinginannya untuk berpasangan lagi dengan SBY di Pilpres 2009 mendatang. Gayung pun bersambut, karena SBY meski belum menyatakan secara terbuka, namun mulai memberi signal bahwa JK adalah cawapres yang mumpuni.
Buktinya, SBY secara khusus mengungkit prestasi fenomenal Wapres Jusuf Kalla (JK). Terutama dalam tercapainya perjanjian damai RI-GAM di Helsinski tiga tahun silam. Peran penting JK sepanjang proses perundingan pemerintah RI dan GAM, diungkit SBY dalam acara pembubaran Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias di Istana Negara, Jakarta, Jumat (17/04).
Operasi tanggap darurat dan pemulihan pasca tsunami tidak akan berhasil bila konflik bersenjata masih berlangsung. Presiden SBY ingat benar bahwa sepanjang masa tanggap darurat dan tahap awal rekontruksi, ada rasa was-was dan cemas terhadap kondisi ke-amanan di Aceh. Meski dua pihak terlibat konflik sadar harus untuk saling bahu membahu, tetap saja dibayangi kecurigaan dan permusuhan.
“Tapi kepercayaan terus dibina, perlu negoisasi yang baik. Pak JK punya banyak peran di situ,” ujar SBY. Peran penting JK di Aceh berlanjut pada tahapan rekontruksi dan rehabilitasi. Ketika struktur organisasi BRR sedang disusun, JK aktif memberikan masukan agar lembaga yang bertugas membangun kembali Aceh tersebut mendapat otoritas penuh dalam me-nunaikan tanggungjawabnya dan bebas dari intervensi pemerintah.
“Kalau terlalu banyak intervensi pemerintah, nanti malah bingung. Saya banyak berdiskusi dengan Pak JK soal itu” ungkap SBY sambil menunjuk ke arah JK yang duduk di seberang podium. Apakah ini sebuah isyarat duet SBY-JK akan dilanjutkan?
Partai Golkar sendiri menyatakan telah merasakan signal bahwa Partai Demokrat setuju untuk bersanding kembali. “Kami sudah mendapat sinyal kuat bahwa Demokrat akan berkoalisi dan menggandeng cawapres dari kami,” ujar Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso, dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/04).
Meski demikian, Priyo masih enggan membeberkan sinyal seperti apa yang partainya dapat dari PD. Apakah dari pertemuan Cikeas? “Saya tidak bisa menjawab,” elak-nya. Ditanya lebih lanjut apakah keyakinan Golkar akan digandeng PD sudah mengerucut kepada Jusuf Kalla sebagai cawapres SBY atau belum, Priyo kembali mengelak. “Saya tidak bisa men-jawab,” elaknya lagi.
Sementara itu, sumber di internal Partai Golkar mengatakan, saat ini sudah ada tujuh nama cawapres terkuat yang digembar-gemborkan oleh sejumlah DPD Golkar untuk mendampingi SBY. Nama-nama tersebut antara lain Jusuf Kalla, Surya Paloh, Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Sri Sultan Hamengkubuwono dan Priyo Budi Santoso. “Tu-juh Nama ini dari hasil surat edaran (capres) yang lalu,” katanya. Ia menjelaskan, berhubung pengajuan capres tidak realistis lagi, maka surat edaran yang sedianya digunakan untuk menjaring capres kini dipakai untuk melihat peta usulan cawapres dari daerah. “Kini di lapangan daerah-daerah pun bergejolak. Para tokoh pun turun gunung,” pungkasnya.
Golkar sendiri telah membahas format koalisi dan ma-salah calon wakil presiden (cawapres) dalam rapat pengurus pleno Partai Golkar yang dihadiri sang Ketua Umum Jusuf Kalla (JK), kemarin. “Pertama format koalisi kedua soal calon cawapres ketiga tata caranya,” kata JK sesaat setelah keluar dari ruang rapat, DPP Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Jakarta Barat, kemarin. Rapat berlangsung dua jam lebih. Dimulai pukul 16.00 WIB dan berakhir pukul 18.10 WIB.(jim/dtc)

Sumber:  Harian Komentar, 18 April 2009

Tinjauan Teoritis Tentang Ruang Terbuka Hijau

Oleh: Deddy W. Damopolii, ST.MT.

Pengertian Ruang Terbuka Hijau

Ruang terbuka (open spaces) merupakan ruang yang direncanakan karena kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan dan aktivitas bersama di udara terbuka. Ruang terbuka (open spaces), Ruang Terbuka Hijau (RTH), Ruang Publik (public spaces) mempunyai pengertian yang hampir sama. Secara teoritis yang dimaksud dengan ruang terbuka (open spaces) adalah:

  • Ruang yang berfungsi sebagai wadah (container) untuk kehidupan manusia, baik secara individu maupun berkelompok, serta wadah makhluk lainnya untuk hidup dan berkembang secara berkelanjutan (UU No.24/1992 tentang Penataan Ruang).
  • Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya (pasal 1 ayat 1; UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang – Revisi terhadap UUPR No. 24/1992).
  • Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam (UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang)
  • Suatu wadah yang menampung aktivitas manusia dalam suatu lingkungan yang tidak mempunyai penutup dalam bentuk fisik (Budihardjo, 1999; 90).
  • Ruang yang berfungsi antara lain sebagai tempat bermain aktif untuk anak-anak dan dewasa, tempat bersantai pasif untuk orang dewasa, dan sebagai areal konservasi lingkungan hijau (Gallion, 1959; 282).
  • Ruang yang berdasarkan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau yaitu dalam bentuk taman, lapangan atletik dan taman bermain (Adams, 1952; 156)
  • Lahan yang belum dibangun atau sebagian besar belum dibangun di wilayah perkotaan yang mempunyai nilai untuk keperluan taman dan rekreasi; konservasi lahan dan sumber daya alam lainnya; atau keperluan sejarah dan keindahan (Green, 1962)

Beberapa pengertian tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH) diantaranya adalah:

  • Ruang yang didominasi oleh lingkungan alami di luar maupun di dalam kota, dalam bentuk taman, halaman, areal rekreasi kota dan jalur hijau (Trancik, 1986; 61)
  • Ruang-ruang di dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur yang dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan yang berfungsi sebagai kawasan pertamanan kota, hutan kota, rekreasi kota, kegiatan Olah Raga, pemakaman, pertanian, jalur hijau dan kawasan hijau pekarangan (Inmendagri no.14/1988).
  • Fasilitas yang memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan permukiman, dan merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam kegiatan rekreasi (Rooden Van FC dalam Grove dan Gresswell, 1983).

Pengertian ruang publik (public spaces) adalah suatu ruang dimana seluruh masyarakat mempunyai akses untuk menggunakannya. Ciri-ciri utama dari public spaces adalah: terbuka mudah dicapai oleh masyarakat untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelompok dan tidak selalu harus ada unsur hijau, bentuknya berupa malls, plazas dan taman bermain (Carr, 1992).
Jadi RTH lebih menonjolkan unsur hijau (vegetasi) dalam setiap bentuknya sedangkan public spaces dan ruang terbuka hanya berupa lahan terbuka belum dibangun yang tanpa tanaman. Public spaces adalah ruang yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat sedangkan RTH dan ruang terbuka tidak selalu dapat digunakan dan dinikmati oleh seluruh masyarakat.
Ruang terbuka hijau membutuhkan perencanaan yang lebih baik lagi untuk menjaga keseimbangan kualitas lingkungan perkotaan. Mempertahankan lingkungan perkotaan agar tetap berkualitas merupakan penjabaran dari GBHN 1993 dengan asas trilogi pembangunannya yaitu pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, dan stabilitas nasional melalui pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup (GBHN, 1993; 94)

Klasifikasi Ruang Terbuka Hijau Kota

Klasifikasi ruang terbuka hijau berdasarkan pada kepentingan pengelolaannya adalah sebagai berikut :

  • Kawasan Hijau Pertamanan Kota, berupa sebidang tanah yang sekelilingnya ditata secara teratur dan artistik, ditanami pohon pelindung, semak/perdu, tanaman penutup tanah serta memiliki fungsi relaksasi.
  • Termaktub dalam penjelasan UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang pasal 29 (ayat 1, 2 dan 3):
    Ayat 1 berbunyi:
    Ruang terbuka hijau publik merupakan ruang terbuka hijau yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Yang termasuk ruang terbuka hijau publik, antara lain, adalah taman kota, taman pemakaman umum, dan jalur hijau sepanjang jalan, sungai, dan pantai. Yang termasuk uang terbuka hijau privat, antara lain, adalah kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan.
    Ayat 2 berbunyi:
    Proporsi 30 (tiga puluh) persen merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Untuk lebih meningkatkan fungsi dan proporsi ruang terbuka hijau di kota, pemerintah, masyarakat, dan swasta didorong untuk menanam tumbuhan di atas bangunan gedung miliknya.
    Ayat 3 berbunyi:
    Proporsi ruang terbuka hijau publik seluas minimal 20 (dua puluh) persen yang disediakan oleh pemerintah daerah kota dimaksudkan agar proporsi ruang terbuka hijau minimal dapat lebih dijamin pencapaiannya sehingga memungkinkan pemanfaatannya secara luas oleh masyarakat.
  • Kawassan Hijau Hutan Kota, yaitu ruang terbuka hijau dengan fungsi utama sebagai hutan raya.
  • Kawasan Hijau Rekreasi Kota, sebagai sarana rekreasi dalam kota yang memanfaatkan ruang terbuka hijau.
  • Kawasan Hijau kegiatan Olahraga, tergolong ruang terbuka hijau area lapangan, yaitu lapangan, lahan datar atau pelataran yang cukup luas. Bentuk dari ruang terbuka ini yaitu lapangan olahraga, stadion, lintasan lari atau lapangan golf.
  • Kawasan Hijau Pemakaman.
  • Kawasan Hijau Pertanian, tergolong ruang terbuka hijau areal produktif, yaitu lahan sawah dan tegalan yang masih ada di kota yang menghasilkan padi, sayuran, palawija, tanaman hias dan buah-buahan.
  • Kawasan Jalur Hijau, yang terdiri dari jalur hijau sepanjang jalan, taman di persimpangan jalan, taman pulau jalan dan sejenisnya.
  • Kawasan Hijau Pekarangan, yaitu halaman rumah di kawasan perumahan, perkantoran, perdagangan dan kawasan industri.
Sumber: www.galeryfoto.pu.go.id

Sumber foto: galeryfoto.pu.go.id

Sementara klasifikasi RTH menurut Inmendagri No.14 tahun 1988, yaitu: taman kota, lapangan olahraga, kawasan hutan kota, jalur hijau kota, perkuburan, pekarangan, dan RTH produktif.
Bentuk RTH yang memiliki fungsi paling penting bagi perkotaan saat ini adalah kawasan hijau taman kota dan kawasan hijau lapangan olah raga. Taman kota dibutuhkan karena memiliki hampir semua fungsi RTH, sedangkan lapangan olah raga hijau memiliki fungsi sebagai sarana untuk menciptakan kesehatan masyarakat selain itu bisa difungsikan sebagian dari fungsi RTH lainnya.

Sumber tulisan:  dari berbagai sumber

Apakah Penyalahgunaan Tata Ruang Penyebab Tragedi Situ Gintung?

Oleh: Deddy Damopolii, ST. MT.

Pagi itu 27 Maret 2009, gemuruh suara yang menakutkan menggelegar terdengar disertai teriakan manusia yang meminta tolong. Air menggelegak bercampur lumpur dan material bangunan yang baru saja dihancurkannya. Rumah-rumah dan penghuninya yang masih terlelap tersapu bagaikan dedaunan di atas pasir yang dihantam ombak. Hati siapa yang tak terluka melihat peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Situ Gintung. Menurut berita terakhir di sebuah media nasional bahwa jumlah korban tewas yang berhasil ditemukan mencapai 100-an jiwa. 100 orang lainnya masih dinyatakan hilang oleh keluarganya masing-masing. Kini yang tersisa hanyalah puing-puing dipenuhi lumpur,  bekas-bekas bangunan yang tinggal pondasi dan bahkan tanah yang berlubang tergerus air. Padahal dulunya wilayah di sekitar Situ Gintung tersebut merupakan pemukiman padat penduduk dengan berjubelnya rumah-rumah yang terbilang sangat padat.

Begitu besar dampak bencana akibat “Tsunami kecil” yang melanda Situ Gintung. Pecahnya tanggul dari waduk yang telah lama menjadi tempat menampung air di ibukota dan sekitarya tersebut merupakan penyebab dari tsunami kecil tersebut. Korban jiwa, harta benda dan penderitaan yang tersisa dari para korban yang selamat membuat kita ingin tahu sebenarnya apa penyebab dari bencana tersebut.

Bila ditilik lebih mendalam, bangunan Waduk Situ Gintung yang dibangun 76 tahun yang lalu tepatnya tahun 1932 oleh pemerintah Belanda (ketika masih menjajah) pada saat itu sebagai salah satu alternatif pengairan untuk sawah yang masih banyak tersebar di sekitar Situ. Luas sekitar 21 ha dengan kedalaman berkisar 10 m sehingga sangat potensia untuk menampung air yang digunakan untuk pengairan sawah. Makanya di situ ada spill way (pelimpahan air). Namun setelah areal persawahan di sekitarnya berubah jadi pemukiman, fungsi irigasi waduk Situ Gintung sudah tidak ada lagi. Pada awalnya bangunan waduk dibangun sangat kokoh, namun seiring dengan berjalannya waktu dan kegiatan manusia disekitar waduk yang tidak terkontrol menyebabkan terjadinya kerusakan-kerusakan “kecil” yang sering dianggap remeh. Selain itu dari waktu ke waktu bangunan rumah di sekitar kawasan itu semakin bertambah sehingga luasan Situ Gintung pun kian menyempit. Hal ini menyebabkan kerusakan lingkungan dan bangunan waduk, contohnya pada tahun 2005 terjadi kerusakan persis di dekat lokasi bobolnya tanggul Situ Gintung telah dilaporkan oleh warga di sekitar waduk ke Pemda Kabupaten Tangerang. Namun laporan ini ditanggapi tidak serius, bahkan terkesan dibiarkan saja oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Salah Siapa?

Kejadian ini merupakan suatu musibah, namun perlu dicatat bahwa selain meng”kambinghitamkan” musibah yang tak bisa ditolak sebenarnya kejadian seperti bisa diprediksi. Lalu siapa yang seharusnya menjadi penanggungjawab pengelolaannya sehingga kejadian ini bisa dihindari dari jauh-jauh hari. Sebenarnya berdasarkan keterangan yang diperoleh dari beberapa sumber terpercaya bahwa pengelolaan Situ Gintung merupakan tanggungjawab Dirjen Sumber Daya Air Dep. PU (pemerintah pusat). Selain Situ Gintung masih terdapat sekitar 20-an situ yang masih berfungsi dan berada  di sekitar ibukota Jakarta yang berada di bawah pengawasan Dirjen SDA. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan lokasi Situ Gintung yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Tangerang menyebabkan pemerintah daerah merasa lebih berwenang atas pengelolaan situ. Terlebih dengan berdirinya beberapa tempat wisata di sekitar situ yang diharapkan akan memberikan masukan bagi pemda.  Pemda merasa lebih berhak untuk memberikan ijin tempat usaha dan tempat tinggal di sekitar situ. Hal ini menyebabkan hadirnya banyak bangunan “resmi” yang memiliki ijin dan dikelola oleh pengembang atas ijin pemerintah setempat. Buktinya? ada beberapa pemukiman (perumahan) resmi yang penghuninya membayar pajak bumi dan bangunan dan terdaftar sebagai penduduk di wilayah tersebut.

Penyalahgunaan Tata Ruang?

Undang-undang No. 24 tahun 1992 yang diganti dengan Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dalam pasal 26 ayat 3 disebutkan bahwa, “Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan dan administrasi pertanahan“. Lalu apakah ijin-ijin pembangunan perumahan dan bangunan lain yang telah dikeluarkan oleh pemda setempat telah berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten? Apakah land-use yang ada di sekitar Situ Gintung memang merupakan lahan peruntukkan untuk pemukiman? Pemerintah memang tidak sepenuhnya dapat mengawasinya, kita sadari bahwa pemukiman ini sudah ada sejak lama sebelum adanya Undang-undang tersebut. Namun bukan berarti hal ini dapat didiamkan begitu saja. Perlu adanya kontrol dari pemda setempat terutama kepada ijin bangunan yang benar-benar tidak sesuai dengan peruntukan lahan. Sehingga tidak terbit lagi ijin-ijin bangunan yang menambah semakin padatnya pemukiman di sekitar Waduk Situ Gintung.

Berdasarkan pasal 25 ayat 1, 2 dan 3 Undang-undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air secara umum menyebutkan bahwa:

  1. Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai, danau, waduk, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, daerah tangkapan air, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan hutan, dan kawasan pantai.
  2. Pengaturan konservasi sumber daya air yang berada di dalam kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan hutan, dan kawasan pantai diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan.
  3. Ketentuan mengenai pelaksanaan konservasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Hal ini jelas menyebutkan bahwa waduk dan sekitarnya merupakan kawasan konservasi sumber daya air yang jika dikaitkan dengan undang-undang penataan ruang merupakan kawasan lindung yang sekitarnya tidak boleh dibangun atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan peruntukkannya.

Lalu bagaimana dengan bangunan telah berijin dan dibangun di atas lahan yang bukan peruntukkannya? Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan dalam Pasal 37 ayat 2 bahwa, “Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah menurut kewenangan masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Hal ini memungkinkan pemerintah atau pemerintah daerah untuk mengelola tata ruang di kawasan lindung agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sudah tentu dengan tidak mengabaikan hak-hak masyarakat di sekitar tempat tersebut. Kebijakan dan peraturan yang tegas, cepat dan tepat serta dapat diterima oleh semua pihak sangat diharapkan untuk memecahkan masalah tersebut. Semuanya harus didudukkan atas dasar undang-undang yang berlaku di negara ini. Dalam hal ini perlu bertindak tegas demi menyelamatkan masyarakat dan lingkungannya.

Benar adanya, bahwa penyalahgunaan tata ruang dan fungsi peruntukkan lahan (land-use) merupakan salah satu dari berbagai  penyebab terjadinya tragedi Situ Gintung. Ini merupakan peringatan bagi kita semua untuk selalu memperhatikan dan mengawasi agar nantinya tidak terjadi penyalahgunaan tata ruang pada masa yang akan datang. Karena akibat dari penyalahgunaan tata ruang sangat merugikan serta membahayakan keselamatan jiwa manusia.

Danau Moat dan Ikan Sidat (Sogili)

Contributed by Zakiah Posko

Danau Moat Wilayah Konservasi Perairan

Danau Moat dikenal sebagai salah satu kawasan wisata perairan yang sangat diminati, baik oleh para wisatwan local maupun yang berada dari luar daerah atau mancanegara. Tapi, siapa sangka jika di kawasan danau Moat yang merupakan salah satu kebanggaan dan juga ikon dari Kabupaten Bolaang Mongondow ini, menyimpan hewan langka yang pada masa yang lalu dikenal sebagai sebuah mitos, yakni populasi Ikan Sidat atau ikan semacam Ikan Sogili tapi mempunyai dada berwarna kuning. Oleh karena adanya populasi hewan yang langka tersebut, akhirnya Pemerintah Pusat melalui DKP, telah menetapkan kawasan Danau Moat sebagai kawasan Konservasi Perairan di Indonesia, dengan luas wilayah sekitar 617 hektare. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Bolaang Mongondow Ir S M Assegaf, dimana tujuan dari penetapan wilayah konservasi ini, untuk menjaga populasi dari jenis ikan Sidat ini. Sesuai dengan amanat dari pemerintah pusat melalui DKP, Danau Moat telah dijadikan sebagai kawasan Konservasi Perairan, dimana tujuannya untuk membudidayakan atau menjaga kelestarian dari populasi ikan Sidat, ujar Assegaf kepada Koran ini.

Ikan Sidat (Sogili)

Ikan Sidat (Sogili)

Lebih lanjut menurut Assegaf, dengan ditetapkannya wilayah Danau Moat sebagai kawasan Konservasi, maka dengan demikian, pihaknya akan memberikan bantuan kepada masyarakat yang ada di sekitar kawasan tersebut, untuk bisa mengalihkan kebiasaan masyarakat untuk menangkap ikan Sidat, yang telah menjadi ikan berjenis langka tersebut. Sekadar diketahui, Ikan Sidat ini mempunyai cara berkembang biak yang cukup aneh dan mirip dengan ikan Salmon, dimana Ikan Sidat ini akan berkembang biak tidak di Danau Moat tetapi melakukan migrasi hingga ke kawasan Poigar, baru kemudian kembali datang ke danau Moat untuk menjadi besar. Ikan Sidat ini sendiri, di Indonesia hanya berada di 2 danau, yakni di Danau Moat dan Danau Poso Sulawesi Tengah.

Sumber: Poskomanado.com, 2008

Mau Langsing? Tidurlah yang nyenyak dan lebih lama…

Kurangi Berat Badan dengan Tidur Lebih Lama

Paling tidak sudah ada dua lusinan penelitian yang menunjukkan bahwa orang cenderung menambah berat badan jika tidur kurang. Sanjay Patel, M.D, dari Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat, melakukan studi selama 16 tahun, melibatkan hampir 70.000 wanita. Sanjay dan timnya mendapati bahwa sekitar 30 persen wanita yang tidur lima jam atau kurang dalam semalam bobotnya cenderung naik menjadi 13,6 kg daripada yang tidur lebih lama. Bahkan, beberapa ahli meyakini bahwa kurang tidur adalah salah satu penyebab epidemi obesitas di negara tersebut. Menurut National Sleep Foundation, rata-rata wanita tidur 6 jam 40 menit setiap malam, jauh dari kebutuhan minimum selama 7,5 jam yang diperlukan wanita yang sehat. Michael Breus, Ph.D, dan Steven Lamm, M.D, dari tim peneliti lain, juga melakukan percobaan terhadap tujuh perempuan dengan bobot tubuh bervariasi. Ketujuh perempuan ini diminta untuk tidur sedikitnya 7,5 jam tiap malam. Para perempuan ini juga diminta untuk tidak melakukan latihan fisik atau diet sama sekali. Hal ini untuk melihat apakah turunnya berat badan memang merupakan efek dari tidur yang cukup. Hasilnya, dalam 10 minggu, perempuan berusia 25-35 tahun tersebut kehilangan berat badan 2,7 kg hingga 6,8 kg. Satu orang responden, Natasha Crawford (33), mengalami kesulitan untuk mengatur jadwal tidur akibat kesibukannya. Namun di akhir program, lingkar pinggang, dada, dan pinggulnya total berkurang 6,3 cm. Namun apa sebenarnya hubungan antara tidur dan berat badan? Tidur mengurangi hormon yang mengontrol nafsu makan, ngidam, dan metabolisme lemak. Jika Anda perhatikan, Anda akan makan lebih banyak saat tubuh merasa lelah. “Ketika wanita kekurangan tidur, kadar ghrelin meningkat. Inilah hormon yang membuat Anda ingin makan terus,” ujar Breus, Direktur Klinis dari Divisi Tidur di Southwest Spine & Sport, Scottsdale, Arizona, dan penulis Beauty Sleep. “Sebaliknya, kadar leptin menurun, yaitu hormon yang akan meminta Anda berhenti makan ketika Anda kenyang.” Ketika kurang tidur, Anda tidak hanya ingin makan lebih, tetapi juga makan junk food lebih banyak. Tubuh kita akan menuntut karbohidrat untuk menambah energi dengan cepat. “Saat tidur pulas, otak memproduksi hormon pertumbuhan dalam jumlah besar, yang meminta tubuh Anda untuk memecah lemak untuk tenaga. Jika kurang tidur yang nyenyak, dan ketika kalori disimpan sebagai lemak, tidak ada cukup hormon pertumbuhan untuk memecahnya. Tubuh Anda akan mengambil jalan pintas, dan menyimpannya di bokong, paha, perut, atau tempat mana pun yang biasa Anda lihat,” papar Breus. Lisa Braverman (34), yang total berkurang 4 kg dan 6,3 cm dari lingkar dada, pinggang, dan pinggulnya, mengatakan, “Perubahan tubuh saya benar-benar mengejutkan karena saya sama sekali tidak mengubah apa pun kecuali kebiasaan tidur. Saya makan seperti biasanya, dan olahraga dalam waktu yang sama, malah mungkin kurang karena saya harus tidur lebih cepat sekarang.” Mungkin Anda pun mengalami kesulitan mengatur jadwal tidur, mengingat kesibukan Anda. Namun ini kuncinya: jika Anda menganggap pengurangan berat badan dan hidup lebih sehat ini penting bagi Anda, maka jadikan hal ini prioritas sekarang juga!

Sumber: Kompas.com, 2009