Catatan HUT ke-55 Bolmong

By. Ronald Mokoginta

Tidak terasa Bolaang Mongondow sudah berusia 55 tahun. Bila ditarik ke belakang, penduduk Bolaang Mongondow sebenarnya berasal dari keturunan Gumalangit dan Tendeduata, serta Tumotoibokol dan Tumotoibokat. Setelah zaman berganti, dari daerah kerajaan, 23 Maret 1954 Bolmong resmi menjadi daerah otonom, lewat PP 24 tahun 1954. Seiring dengan perputaran waktu: orde lama, orde baru, orde reformasi, hingga kini otonomi daerah, Bolmong sudah mekar menjadi 5 kabupaten/kota: Bolmong, Bolmut, Kota Kotamobagu, Bolsel, dan Boltim. Namun teringat dengan berbagai cerita orang tua dulu, Kotamobagu (KK) merupakan pusat pemerintahan kerajaan sebelum Bolaang yang merupakan tempat kedudukan istana raja. Sejak UU Mokoagow diangkat sebagai bupati Bolmong (1972) simbol kerajaan dan tempat muasyawarah para raja dipelihara. Seperti tempat tinggal raja di kawasan Perkantoran Camat Kotamobagu Timur (Kotobangon), serta rumah adat raja yang sekarang dinamakan Gedung Bobakidan. Namun, sayang berbagai peninggalan yang ada di tempat-tempat itu hilang entah kemana: pakaian adat dan seluruh pernak-pernik kerajaan amblas. Padahal, dari pernak pernik itu ada simbol-simbol eks swapraja. Bahkan simbol kerajaan tidak tampak di Bolmong, padahal sejak Datu Mokodoludut, raja pertama Mongondow sudah mengajarkan kebersamaan dan kekeluargaan. Zaman Tadohe yang tidak terlepas pada ajaran Kinalang (pemerintahan) dan Paloko’ (rakyat). Kini untuk membangun simbol-simbol kejayaan kerajaan itu, harus dilakukan mulai sekarang. Jangan sampai leluhur akan marah karena peninggalan mereka sudah habis. Satu kalimat yang pas adalah: “kembalikan adat bo oadatan”. Bila perlu ada peraturan daerah (hukum lokal) tentang lembaga adat. Kemeriahan peryaan HUT tidak menjadi ukuran, tetapi yang terpenting adalah para elit harus satu ide Motobatu’, Molintak Kon Totabuan (bersatu mengangkat dan meningkatkan pembangunan tanah leluhur). 5 pimpinan Bolmong Bersatu selalu tetap mengakar pada semboyan mototompian (saling memperbaiki), mototabian (saling mengasihi), bo mototanoban (saling merindukan) Juga mooaheran (hidup bertoleransi), mobobangkalan (saling menyegani) dan mooadatan (saling menghargai dan menghormati adat istiadat). Dirgahayu Bolmong, semoga tetap jaya.

Sumber: mdopost.com

Pertanian masih Primadona di Bolaang Mongondow

Pertanian merupakan salah satu keunggulan negara kita yang merupakan negara agraris. Alam Indonesia yang subur merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sektor pertanian menjadi unggulan yang memacu pertumbuhan ekonomi terutama didaerah-daerah yang masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencarian penduduk di daerah tersebut. Demikian pula halnya dengan Kabupaten Bolaang Mongondow yang secara geologis memiliki tanah yang subur dengan segala tanaman yang menghasilkan berbagai hasil bumi untuk menghidupi masyarakat di daerah tersebut. Sejak awal sektor pertanian menjadi primadona di Kabupaten Bolaang Mongondow disamping sektor-sektor lainnya seperti pertambangan dan jasa.

Bolaang Mongondow merupakan "Lumbung Beras" Prop. SULUT

Bolaang Mongondow merupakan “Lumbung Beras” Prop. SULUT

Kabupaten Bolaang Mongondow merupakan Lumbung Beras dari Propinsi Sulawesi Utara karena produksi pertanian padi sawah yang melimpah. Berdasarkan data dari BPS (2006) ditunjukkan dengan poduksi luas panen padi sawah dari 49.238 Ha pada tahun 1999 meningkat menjadi 52.036 pada tahun 2006. Demikian pula dengan jumlah gilingan padi yang meningkat dari 561 buah pada tahun 2002 menjadi 599 buah pada tahun 2004. Indikasi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan penyumbang yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bolaang Mongondow.

Beberapa sektor selain pertanian juga turut menyumbang bagi peningkatan ekonomi, namun bagaimana perannya terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bolaang Mongondow secara keseluruhan. Perkembangan investasi pada sektor pertambangan yang terjadi selang beberapa tahun belakangan ini ikut membantu dalam hal peningkatan ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow. Seberapa besar peran sektor-sektor lain dalam hal peningkatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bolaang Mongondow, apakah sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi dan bagaimana pertumbuhan ekonomi sekarang dibandingkan dengan sebelumnya.

Penggunaan lahan di Kabupaten Bolaang Mongondow didominasi oleh hutan Negara seluas 309.050 Ha ; sedangkan yang terkecil adalah penggunaan lahan untuk kolam/tebat dan empang seluas 2.573 Ha.

padi-12

Dalam mengkaji perekonomian suatu wilayah, hal yang pertama perlu dilihat adalah struktur perekonomian wilayah tersebut. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bolaang Mongondow tahun 2003, struktur perekonomian kabupaten dapat diketahui. Sektor primer memegang peranan penting dalam perekonomian Kabupaten Bolaang Mongondow, terutama tanaman bahan makanan dengan kontribusi sebesar 20,71% terhadap total PDRB kabupaten, dan sektor tanaman perkebunan sebesar 15,11%. Peran sektor pertanian ini kemudian diikuti oleh jasa pemerintahan umum, yakni sebesar 20,44%. Hal ini berarti bahwa hingga saat ini Kabupaten Bolaang Mongondow banyak bergantung pada ketiga sektor tersebut dalam menjalankan roda perekonomian. Faktor pengeluaran pemerintah pun (government expenditure) merupakan faktor penting sebagai penggerak ekonomi Bolaang Mongondow. Namun untuk memastikan bahwa apakah ketiga sektor tersebut benar-benar merupakan sektor unggulan di Kabupaten Bolaang Mongondow saat ini dan masa depan masih memerlukan analisa lebih lanjut.

Berdasarkan rumus di atas, maka diperoleh nilai LQ dari tahun 2001-2004 untuk sektor basis yang merupakan penggerak utama pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bolaang Mongondow ada 3 (tiga) sektor yaitu :

a. Sektor Pertanian

b. Sektor Keuangan

c. Sektor Jasa-jasa

Berdasarkan data LQ di atas, sektor pertanian sampai tahun 2004 masih merupakan Sektor Basis yang merupakan penggerak pertumbuhan ekonomi wilayah di Kabupaten Bolaang Mongondow. Selain Sektor Pertanian, sektor basis lainnya adalah Sektor Keuangan dan Jasa-jasa. Kedua sektor tersebut juga merupakan prasyarat agar pertumbuhan ekonomi dapat meningkat.

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi unggulan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah di Kabupaten Bolaang Monngondow. Sektor-sektor lain yang menunjang pertumbuhan ekonomi selain pertanian adalah sektor keuangan dan jasa. Sektor pertanian merupakan sektor basis karena sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani. Sektor keuangan merupakan sektor basis juga karena aktifitas keuangan dari Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow sebagai penggerak perbankan dan jasa-jasa keuangan lainnya. Sebagai akibatnya maka terjadilah peningkatan aktivitas perekonomian di daerah Kabupaten Bolaang Mongondow. Tarikan Investasi juga merupakan penggerak sektor keuangan di Kabupaten Bolaang Mongondow yang memicu terjadinya peningkatan pada sektor jasa baik pada Pemerintah daerah maupun swasta.

Kecenderungan pertumbuhan sektor keuangan yang meningkat maka diperkirakan di masa yang akan datang peran sektor keuangan pun akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi lebih baik. Hal ini merupakan pertanda positif mengingat sektor ini merupakan salah satu prasyarat apabila perekonomian suatu wilayah ingin berkembang.

Demikian pula halnya dengan sektor pertanian yang merupakan ekonomi basis yang nantinya akan mendorong sektor ekonomi non basis seperti tenaga kerja, penyediaan saprotan, pembibitan dan lain-lain sehingga menimbulkan multiplier efek yang mampu meningkatkan sektor ekonomi lain dalam hal peningkatan pendapatan rata-rata bagi penduduknya.