Saatnya SVR-MMS Jadi Penentu

PASANGAN calon gubernur dan calon wakil gubernur Sulut periode 2010-2015, Drs Stefanus Vreeke Runtu dan Dra Hj Marlina Moha-Siahaan dinilai paling layak menjadi penentu kebijakan di daerah Nyiur Melambai ini.
Di mana sejumlah pelayan gereja, dalam hal ini GMIM, SVR-MMS adalah dua tokoh pemersatu yang meniadakan perbedaan baik agama, golongan maupun ras. Apalagi pasangan yang diusung Partai Golkar ini, selalu menempatkan persatuan dan toleransi dalam pengambilan kebijakan yang menyangkut masyarakat.
“Saatnya SVR dan MMS menjadi penentu kebijakan di Sulut, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut periode 2010-2015,’’ tegas pelayan GMIM asal Minahasa Selatan, Penatua Drs Edison Masengi, Minahasa Penatua Handry Kindangen SE dan dari Manado Penatua Brian Waleleng.
Penegasan dan dukungan juga diberikan oleh Penatua Naomi Mundung dari Bitung, kemudian dari Mitra Penatua Anie Boseke SH dan dari Tomo-hon Penatua Hofny Kalalo SH. Selain itu, SVR-MMS juga mendapat dukungan penuh dari tokoh masyarakat lintas agama di antaranya, Pendeta Manuel Mantiri (GPdI), Lerry Wenur ST (Advent) dan Welly Simon Wenur (Katolik).
Demikian pula SVR mendapat dukungan penuh dari warga Nusa Utara, bersama Drs Winsulangi Salindeho, Pendeta Meiva Lintang STh, Drs Piet Kuara dan Drs Engel Tatibi. “SVR layak didukung karena perhatiannya dalam kegiatan gereja. Dan sebagai warga GMIM, SVR diperkirakan bakal mendapat dukungan kurang lebih 40 persen ,’’ ungkap Masengi.
Dukungan dan simpati warga GMIM dirasakan SVR ketika tampil dalam acara Konven Pelsus Perempuan GMIM yang dihadiri empat ribu tamu dan dua ribu peserta sidang Majelis Sinode ke-75 GMIM di Tondano, pekan lalu. Mereka adalah perutusan 99 wilayah dan 877 jemaat di tujuh kabupaten/kota di Sulut. Sementara itu, SVR memohon doa restu warga GMIM dalam pencalonannnya sebagai Gubernur Sulut.
“Sebagai warga gereja, saya memohon dukungan doa dan restu untuk menjadi penentu kebijakan Sulut lima tahun ke depan,’’ kata SVR dengan penuh kerendahan hati.
Pasangan SVR-MMS adalah pasangan paripurna yang dimiliki warga Sulut. Keduanya adalah pemimpin semua suku etnis, agama dan golongan, yang menunjukkan SVR adalah bapak pemekaran Minahasa raya, representasi Minahasa raya dan Kristen. Sedangkan MMS representasi Bolmong raya dan Muslim.(ami/*)

Sumber: Harian Komentar, 28 Juli 2010

Jika NIP Terbit Hanya buat 161 CPNS-Orangtua Ancam Demo Besar-besaran Lagi

Kotamobagu, KOMENTAR
Suara perih kembali diungkapkan para CPNS Kota Kotamobagu. Terlebih jika benar apa yang disampaikan oleh Gubernur Sulut, Drs Sinyo Harry Sarundajang (SHS) belum lama ini, di mana dari 355 CPNS yang diumumkan Pemkot Kotamobagu hanya 161 orang yang lebih dulu menerima Nomor Induk Pegawai (NIP).
Menurut para CPNS, hal itu adalah keputusan yang keliru dan justru adalah blunder bagi pemerintah. “Jika hanya 161 yang keluar terlebih dahulu NIP dan lainnya menyusul, maka kami akan melakukan demo besar-besaran dan menolak NIP 161 orang,” ancam Herdi Dayoh, salah satu CPNS.
Menurutnya lagi, bahwa yang harus dikeluarkan oleh pihak BKN dan Menpan adalah sesuai dengan telah diumumkan oleh pemerintah Kota kotamobagu waktu lalu yakni 355 orang, karena jika terus dipaksakan jelas ini akan berdampak pada keamanan dan kenyamanan.
Hal yang sama disampaikan oleh Samsuri Mamonto, menurutnya suda cukup CPNS diobok-obok oleh persoalan kepentingan, sekarang hendaklah pemerintah berpikir baik, karena sebentar juga kami CPNS ini akan mengabdi di kotamobagu dan akan mendukung semua program pemerintah untuk kemajuan Kota Kotamobagu. “Kami mohon melihat persoalan CPNS dari sisi baiknya, bukan dari sisi kepentingan, karena sebentar yang akan dirugikan juga adalah pemerintah dan rakyat Kota Kotamobagu,” Pinta Mamonto.
Persoalan ini harus diarifi oleh pemerintah Kotamobagu, Propinsi bahkan pusat, karena jika tidak ada solusi yang terbaik, maka hal ini akan sangat berdampak di daerah.(cop)

Sumber: Harian Komentar, 28 Juli 2010