CPNS KK Pasrah

Minta Menpan dan Pemkot Transparan

KOTAMOBAGU — Sebanyak 355 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kotamobagu hasil rekrutmen tahun anggaran 2009 lalu, mengatakan pasrah  dengan keputusan yang diambil pihak Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Meneg PAN-RB) dan pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu. Tapi, para CPNS yang sudah berjuang sampai Jakarta ini meminta ada transparansi dari kedua instituasi tersebut.
Sikap pasrah itu dikatakan menyusul, pernyataan Kepala Badan Kepagawaian Nasional (BKN) pusat beberapa waktu lalu, yang menyatakan hanya akan menerbitkan SK kepada CPNS yang dinyatakan lulus murni. Bagi ke-14 nama yang ditemukan lulus tapi tidak mengikuti ujian dan sejumlah nama yang ditemukan bermasalah, tidak akan diproses. Salah seorang perwakilan CPNS Meyti Kaawoan menyatakan, jika pernyatan Kepala BKN pusat itu benar, maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa alias pasrah. “Kami juga belum tahu jelas mengenai hal tersebut, namun jika memang ada yang tidak akan mengantongi NIP, kami hanya bisa pasrah,” ucapnya.
Atas nama CPNS, Ia meminta pihak Meneg PAN dan Pemkot Kotamobagu harus transparan dan punya alasan objektif. “Yang kami tahu, proses rekrutmen sudah berjalan sesuai mekanisme dan aturan. Itu juga yang disebutkan Kepala BKD Kotamobagu,” tegas Meyti.
Kemarin, sejumlah CPNS kembali mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotamobagu. Namun, tidak ada jawaban yang bisa menenangkan kegelisahan mereka (CPNS). Pihak DPRD hanya terus mengulangi pernyataan mereka, yakni tetap menunggu keputusan dari Meneg PAN-RB.
Sementara itu, Wali Kota Kotamobagu Drs Djelantik Mokodompit mengatakan, pihaknya masih akan bertemu dengan Meneg PAN-RB untuk membicarakan nasib ke 355 CPNS Kotamobagu. “Mungkin awal Juli mendatang, saya akan terbang ke Jakarta menemui Menpan,” tandas wali kota. (fir)

Sumber: Harian Manado Post, 30 Juni 2010

Iklan

ADAT DAERAH DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

SOSIALISASI PENERAPAN

ADAT DAERAH DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

Oleh: Drs. Hi. SYAMSUL MOKOGINTA


I. Pendahuluan

Masyarakat Bolaang Mongondow sebelum pemekaran terdiri dari 4 etnik yaitu:

  1. Etnik Mongondow
  2. Etnik Kaidipang/Mokapok
  3. Etnik Bintauna
  4. Etnik Bolango

Keempat etnik ini memiliki adat dan kebiasaan sendiri-sendiri, pemerintahan sendiri selama berabad-abad, dimana adat kebiasaan tersebut secara turun-temurun dihormati dan dipatuhi. Dengan demikian keepat etnik tersebut merupakan satuan masyarakat adat yang memiliki ciri dan identitas sendiri sebelum kedatangan bangsa Eropa (Spanyol, Portugis dan Belanda) yang menjajah negeri-negeri dan kerajaan-kerajaan di Nusantara termasuk keempat etnik/kerajaan tersebut.

Ciri masyarakat adat tersebut masih sangat kental sampai saat ini dapat dilihat dari berbagai upacara seperti tata cara perkawinan, upacara kematian atau kedukaan, prosesi penjemputan tamu kehormatan, etiket sopan santun, pemberian gelat adat kepada pejabat tinggi negara dan sebagainya.

Sebelum masuknya agama Islam, masyarakat Bolaang Mongondow dan raja-rajanya masih menganut Animisme dan raja-raja selanjutnya menganut agama Kristen Katholik yang dibawa oleh bangsa Eropa (Spanyol dan Portugis) yang menyebarkan agama tersebut sampai di kepulauan Philipina terus menyebar ke selatan, tanah Minahasa, Bolaang Mongondow dan Maluku. Oleh sebab itu raja-raja Bolaang Mongondow setelah kedatangan bangsa Eropa umumnya dinamakan menurut agama Kristen Katholik seperti Fransiscus Manoppo, Salomon Manoppo, Eugenius Manoppo, Christofel Manoppo, Cornelius Manoppo dan lain sebagainya yang akan diuraikan lebih lanjut.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, raja-raja Mongondow bergelar Punu’ (Tuang) dimana tercatat ada 6 (enam) raja bergelar Punu’ mulai dari tahun 1400 – 1650 sebagai berikut:

  1. Punu’ Mokodoludut                1400 – 1460
  2. Punu’ Yayubangkai                 1460 – 1480
  3. Punu’ Damopolii                     1480 – 1510
  4. Punu’ Busisi                            1510 – 1540
  5. Punu’ Mokodompit                 1560 – 1600
  6. Punu’ Tadohe                          1600 – 1650

Punu’ Damopolii beristerikan Putri Minahasa bernama Ganting-ganting adalah seorang Putri dari keluarga Tiwow di Buyungon dengan membayar Yoko’/Tali’ berupa tanah dari sungai Ranoyapo, Lewet sampai dengan muara sungai Poigar seluas 720 Km2. Pembayaran Yoko’ tersebut diketahui oleh Walak Minahasa yang mengetahui persis bahwa Yoko’ tersebut harus menuruti adat Bolaang Mongondow. Selanjutnya di zaman Punu’ Mokodoludut dibuatlah kesepakatan para Bogani di tanah Mongondow bahwa:

  1. Mokodoludut dan keturunannya dari generasi-kegenerasi harus menjadi Raja
  2. Barangsiapa yang menentang Raja akan dikenai kutukan:
    • Butungon (kena kutukan)
    • Rumondi na’ Buing (menjadi hitam seperti arang)
    • Dumarag na’ Kolawag (menjadi kuning seperti kunyit)
    • Yumiow na’ Simuton (larut seperti garam)
    • Kimbuton in Tolog (ditelan arus air)
    • Doroton in Motonyanoy (ditindas oleh Dewata)
    • Raja bergelar Punu’ atau Tuang dan anak-anaknya diberikan gelar bangsawan Abo’ untuk laki-laki dan Boki’ atau Bua’ untuk perempuan.

Ketentuan ini berlaku terus-menerus dan sangat dipatuhi oleh masyarakat Mongondow sampai adanya perubahan oleh Punu’ ke-enam (Punu’ Tadohe) yang membagi masyarakat Bolaang Mongondow atas enam strata, yaitu”

1) Mododatu

2) Kohongian

3) Simpal

4) Nonow

5) Tahig

6) Yobuat

Ditegaskan pula bahwa apabila rakyat memanen padi jagung harus menyerahkan beberapa gantang kepada Raja, tanaman pisang yang pertama berbuah harus diserahkan kepada raja, apabila seseorang rakyat yang kaya meninggal dunia maka sepertiga dari kekayaannya sebelum dibagi kepada keluarga pewaris diserahkan kepada raja. Apabila raja mangkat atau permaisuri, maka seluruh rakyat diwajibkan memakai pakaian hitam, tidak boleh memasang lampu pada malam hari sebelum jam 8 malam dan lain-lain keistimewaan.

II. Sejarah Raja-Raja

Adapun raja-raja Bolaang Mongondow yang bergelar Raja setelah berakhirnya gelar Punu’ adalah :

    • Raja Loloda Mokoagow atau Datu Binangkang 1653 – 1694

      Raja ini terkenal agresif dan menyerang pulau Manado Tua sehingga rakyat Manado Tua lari ke Pulau Sangir dan tinggal 52 orang yang sakit-sakitan ditinggalkan kemudian diangkut oleh Gubernur Belanda Padsburg dan dibawa ke Sindulang.

      • Raja Yakobus Manoppo, putra Loloda Mokoagow hasil perkawinan dengan putri Minahasa yang kemudian menjadi Raja Mongondow pada tahun 1694 – 1695.
        • Raja Fransiscus Manoppo 1695 – 1731
          • Raja Salomon 1735 – 1748, Raja ini melindungi orang-orang Minahasa yang lari ke Bolaang Mongondow akibat penindasan seorang Hukum Besar di Minahasa dan menetap di Bolaang dan Mariri. Oleh Residen Manado, penduduk tersebut diminta dipulangkan ke Minahasa tetapi ditolak oleh Raja Salomon. Disamping itu Raja Salomon bertengkar soal perbatasan dengan Raja Kaidipang yang menyebabkan Raja tersebut dipenjarakan oleh Belanda di Ternate kemudian pindah ke Batavia selanjutnya dibuang ke Afrika Selatan (Tanjung Harapan) selama ± 8 tahun. Sepeninggalnya Raja Salomon karena dibuang ke Afrika Selatan maka di Bolaang Mongondow timbul kerusuhan bahkan pembunuhan-pembunuhan politik oleh beberapa keluarga raja yang ingin menjadi raja tetapi mendapat perlawanan yang kuat dari Jogugu Yambat Simon Damopolii yang didukung rakyat mendesak kepada pemerintah Belanda untuk mengembalikan Salomon Manoppo ke Bolaang. Permintaan tersebut dipenuhi dengan janji bahwa bila Salomon hidup. Raja Salomon tiba di Bolaang pada 15 Maret 1756 dan diangkat kembali menjadi raja pada tanggal 10 Agustus 1764.
            • Raja Egenius Manoppo 1764 – 1770 (Raja ini akhirnya menjadi gila dan digantikan oleh raja ke-enam)
                • Raja Christofel Manoppo 1767 – 1770
                  • Raja Markus Manoppo 1770 – 1773
                    • Raja Manuel manoppo 1779
                      • Raja Cornelius Manoppo 1825 – 1829
                        • Raja Ismail Cornelis Manoppo 1825 – 1829
                          • Raja Yakobus Manuel Manoppo 1833 – 1858 (Raja ini masuk agama Islam)
                            • Raja Adreanus Cornelis Manoppo 1858 – 1862
                              • Raja Yohanes Manuel Manoppo 1862 (Penggantinya tidak ada selama beberapa tahun hingga diangkat Raja Abraham Sugeha 1886 – 1893)
                                • Raja Ridel Manuel Manoppo 1893 – 1905
                                • Raja Datu Cornelius Manoppo 1905 – 1928
                                • Raja Laurens Cornelius Manoppo 28 Juni 1928
                                • Raja Henny Yusuf Cornelius Manoppo 4 September 1947 – Juni 1950

                                Catatan :

                                Raja Laurens Cornelius Manoppo di non-aktifkan dan untuk menjalankan pemerintahan diangkat Van Bieren dibantu oleh dua orang pengawas yaitu H.D. Manoppo dan Mokodompit.

                                III. Asal-Usul Orang Mongondow

                                Orang Mongondow menurut Wilken dan Y.A.T. Schwars (1867) terdiri dari 5 (lima) suku/Sub etnis, yaitu:

                                1. Intau Polian, diperkirakan bermukim di daerah Lolayan (Intau in Tudu Polian)
                                2. Intau Buluan, diperkirakan bermukim disekitar Kelurahan Mongondow sekarang ini dan sekitarnya, mengambil nama seorang Bogani Bulu Mondow (Ismail Tolat, 1975).
                                3. Intau Lombagin, disekitar Inobonto/muara sungai Ongkag Mongondow sekarang ini dan sekitarnya.
                                4. Intau Binangunan, bermukim disekitar lereng gunung Ambang.
                                5. Intau Dumoga, sekitar gunung Bumbungon.

                                IV. Adat Kebiasaan Orang Mongondow

                                Sampai sekarang ini beberapa bagian Adat Bolaang Mongondow masih dipatuhi dan dihormati masyarakat. Antara lain, ketika mengadakan pesta pernikahan, upacara kematian (Tonggoluan) dan tata cara berpakaian, upacara menjemput pengantin wanita oleh keluarga pengantin pria, penjemputan tamu kehormatan dan pemberian gelar kehormatan.

                                Upacara adat pernikahan yang dilakukan di desa-desa Bolaang Mongondow pada intinya tetap sama meskipun terdapat perbedaan-perbedaan dalam pelaksanaannya, dimana banyak bagian-bagian yang tidak berlaku lagi.

                                Upacara perkawinan/pernikahan adat tersebut dalam bentuk tertulis, telah ditulis oleh W. Dunnebier seorang misionaris (Zendeling) asal Belanda yang menelliti daerah ini ± 25 tahun (1905 – 1939) dengan judul asli “Verlopen en Trouwen in Bolaang Mongondow” tahun 1935. Upacara perkawinan ini diterjemahkan oleh B. Ginupit dalam Bahasa Indonesia “Pertunangan dan Perkawinan” yang menceritakan perkawinan seorang pemuda bernama Singkuton anak dari Moonik dan istrinya Angkina dengan seorang perempuan bernama Dayag anak dari Abadi dan istrinya Ibud.

                                Ringkasnya prosesi perkawinan tersebut adalah sebagai berikut:

                                1. Meminang, (melamar) – moguman don mobuloi
                                2. Bila pertunangan diterima, dilanjutkan oleh tokoh-tokoh adat (guhanga) meminta imbalan (yoko’). Pada jaman dahulu yoko’ tersebut bisa berupa barang seperti sebidang tanah berisi tanaman kelapa, (lontad in bango’), rumpun rumbia, ternak terdiri dari sapi, kuda, maupun barang-barang berharga lainnya dan uang.
                                3. Guat, berupa pemberian pihak keluarga calon pengantin pria untuk memisahkan (guat) calon pengantin wanita dari ibu dan bapaknya.
                                4. Uku’ ukud, pemberian bantuan biaya dalam bentuk uang sesuai kesepakatan antar keluarga.
                                5. Taba’ adalah utusan pihak keluarga wanita kepada keluarga pihak pria bahwa seorang pemuda bernama “A” telah meminang seorang wanita dari keluarga bernama “B”.
                                6. Mahar, pemberian yang diminta oleh calon pengantin wanita kepada calon pengantin pria (hal ini menurut syariat Islam dalam bentuk cincin atau apapun yang diminta oleh pengantin wanita).
                                7. Upacara Pernikahan, pembacaan Ijab Qabul oleh orang tua pihak wanita (semacam penyerahan tanggungjawab memelihara/menjaga pengantin wanita dengan membayar sejumlah uang tunai (Akad Nikah)
                                8. Gama’, menjemput pengantin wanita oleh keluarga pengantin pria yang terdiri dari 13 (tigabelas) tahapan sebagai berikut:

                                1)      Tompangkoi in Gama’ – Persiapan

                                2)      Lampangan kon tutugan in lanag – melangkah ke tirisan atap.

                                3)      Lolanan kon tubig – menyeberang sungai.

                                (ketiga tahap pertama ini dilakukan di rumah pengantin wanita).

                                4)      Poponikan kon tukad – menaiki tangga rumah

                                5)      Lampangan kon tonom – melangkah ke pintu rumah

                                6)      Puat in kaludu’ – membuka kerudung

                                7)      Pilat ini siripu – melepaskan sepatu

                                8)      Pilat in paung – menutup payung

                                9)      Pinogapangan – pendampingan

                                10)  Pinomama’an – makan sirih pinang

                                11)  Pinonduya’an – meludah (setelah makan sirih)

                                12)  Pinogiobawan/pinolimumugan – makan dan berkumur

                                13)  Pinobuian – pulang/kembali kerumah pengantin wanita

                                V. Upacara Adat Kematian

                                Bila seorang anggota keluarga meninggal dunia, maka diadakan upacara adat kematian sebagai berikut:

                                1. Pemberitahuan kepada khalayak/masyarakat bahwa ada anggota keluarga/warga kampung yang meninggal dunia dengan memukul gong (golantung) ke seluruh kampung. Di rumah orang yang meninggal dipasang Arkus berupa hiasan dari daun enau muda yang dipasang pada lengkungan sebatang bambu dibelah empat dan dibentuk kerucut masing-masing belahan ditempatkan pada empat sisi yang dipasangi tiang bambu (matubo).
                                2. Bila yang meninggal itu suami maka anggota keluarga pihak suami datang dengan barang-barang hantaran boleh juga berupa uang ditaruh di atas piring antik, bersama sisir, bedak, cermin, dipimpin oleh seorang guhanga. Sedangkan istri/janda dari suami yang meninggal duduk disamping persemayaman jenazah (tonggoluan) dan dengan bahasa Mongondow (halus) guhanga mengatakan: “wahai ibu/saudari kali ini anda telah putus hubungan dengan suami bukan karena cerai tetapi atas kehendak Ilahi (bontowon) tetapi masih ada hubungan tanda mata berupa anak-anak dan cucu”. Sesudah itu diserahkan piring antik untuk menampung air mata.

                                Langkah berikut diserahkan bungkusan berupa uang dan istri/jandanya diajak berjalan ke arah jendela dan guhanga tersebut berkata lagi: “wahai ibu/saudari lihatlah betapa luasnya alam raya di luar sana, mulai saat ini tidak ada lagi halangan bagimu untuk melakukan kegiatan selanjutnya”.

                                Bagi orang Mongondow yang beragama Islam biasanya setelah pemakaman diadakan pengajian selama 3 (tiga) hari, 7 (tujuh) hari dan sesudah itu tonggoluan 9tempat persemayaman jenazah) dibongkar dan diberi sejenis Itu-itum, monginsingog yang dilakukan oleh seorang Iman sambil membakar kemenyan berkata: “wahai Almarhum, sekalipun engkau telah dimakamkan, kami tetap mengenangmu, namun kita sudah berbeda alam/alam nyata dan alam arwah, Anda pasti melihat kami karena penglihatanmu sangat terang sekarang, tetapi demi kehidupan kami selanjutnya maka janganlah bersedih hati tempat tidurmu kami akan benahi/bongkar karena Anda telah berpindah ke alam gaib, sedangkan kami masih melakukan tugas kehidupan nyata di dunia dan seterusnya”.

                                Selesai upacara itu yang biasa dilakukan adalah Hataman Qur’an, maka upacara selesai dan para undangan/pelayat pulang ke rumah masing-masing.

                                VI. Upacara Adat Penjemputan Tamu dan Pemberian Gelar Kehormatan

                                Apabila ada seorang pembesar negeri berkenan mengunjungi suatu tempat atau desa/kota, maka seluruh kota/desa dipersiapkan sedemikian rupa kebersihan/kerapihan dengan memasang umbul-umbul, arkus disetiap rumah dan matubo di tempat penjemputan.

                                Ketika saat tamu pembesar negeri itu tiba, diadakan jemputan berupa Tari Perang/Mosau oleh sekelompok penari/penjemput yang bersenjatakan tombak dan perisai yang dikomandani oleh seorang komandan diiringi dengan bunyi tetabuhan (tambur). Pada tempat yang sudah ditentukan, seorang guhanga dan pemangku adat mengucapkan Itu-itum sejenis ucapan selamat datang dan doa. Setelah itu tamu pembesar negeri tersebut dipersilahkan masuk ke dalam rumah dan duduk di tempat yang sudah ditentukan. Bila pembesar negeri itu seorang Kepala Negara, maka akan diberi gelar yang tinggi “Ki Tule Molantud”, “Ki Sinungkudan”, Tonawat dan diberi hadiah berupa Pedang Mongondow yang berlapis emas pada hulu pedang dan sarung pedang (guma’) terbuat dari kayu hitam/ebony yang memakai ikat (tombasi) berupa emas. Biasanya pemberian tersebut diletakkan dalam kotak kaca yang telah disediakan dan untuk “penawar” agar pedang itu tidak membahayakan pemakai kelak, maka Sang Pembesar Negeri harus memberi sekeping uang logam bernilai seratus atau sekarang lima ratus Rupiah kepada pemberi hadiah. Upacara kemudian dilanjutkan dengan penjemputan resmi seremonial.

                                VII. Kesimpulan

                                Selama ± 650 tahun Suku Mongondow telah berkali-kali menerapkan ketentuan adat sebagai berikut:

                                14.  Zaman Pemerintah Mokodoludut, Bogani-bogani Mongondow menyepakati ketentuan bahwa Punu’ Mokodoludut (Tuang in Bolaang Mongondow) diakui sebagai Punu’ (Raja) dan keturunannya dari generasi ke generasi memiliki hak menjadi raja.

                                Disepakati pula bahwa barang siapa yang melawan/melanggar perintah Raja, akan mendapatkan kutukan (laknat) sebagai berikut:

                                1. Butungon (dilaknat/kualat)
                                2. Rumondi na’ Buing (menghitam bagai arang)
                                3. Dumarag na’ Kolawag (menguning bagai kunyit)
                                4. Tumonop na’ Lanag (meresap bagai air tirisan)
                                5. Kimbuton in Tolog (ditelan arus)
                                6. Doroton in Motonyanoi (ditindas oleh Dewata)

                                15.  Zaman Pemerintah Punu’ Tadohe (1600 – 1650) Masyarakat Bolaang Mongondow dibagi atas lapisan-lapisan (Stratifikasi) sebagai berikut:

                                1) Mododatu

                                2) Kohongian

                                3) Simpal

                                4) Nonow

                                5) Tahig

                                6) Yobuat

                                16.  Zaman Raja Yakobus Manuel Manoppo ada kesepakatan di Bolaang Mongondow pada bulan September 1849 dimana diatur status anak/keturunan dari perkawinan campuran antara bangsawan dan non-bangsawan, aturan tentang tata cara bepakaian serta hukuman bagi pelanggar pidana seperti membunuh, mencuri, berzina, dan lain-lain, keseluruhan aturan/kesepakatan itu berjumlah 67 pasal.a

                                17.  Zaman sekarang ini, sebagian besar hukum adat Bolaang Mongondow telah ditinggalkan orang dan yang tersisa serta masih berlaku adalah adat perkawinan, upacara adat kematian dan penjemputan adat serta pemberian/ penghargaan/penobatan gelar adat bagi pejabat tinggi negara.

                                Kotamobagu,   29 Juni 2010

                                Drs. Hi. Sy. Mokoginta

                                Esok, Kotamobagu Berdzikir di Molinow

                                Kotamobagu, KOMENTAR
                                Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu akan menggelar dzikir akbar di Lapangan Molinow, Selasa (29/06) esok. Kegiatan ini rencananya akan dihadiri oleh Ustadz Haryono.
                                Sande Dodo ST selaku ketua panitia menjelaskan kepada Komentar, Jumat (25/06) malam seusai memimpian rapat panitia, kegiatan tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai ivent yang sukses digelar di Kota Kotamobagu. Seperti perayaan puncak HUT ke-3 serta sukses menjadi tuan rumah rapat kerja para walikota se-Indonesia timur yang tergabung dalam Apeksi (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) Komisariat VI.
                                “Di samping itu, dzikir akbar ini juga diadakan sekaligus dalam rangka menyongsong pelaksanaan Pemilukada Propinsi Sulut, serta menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang sudah tidak lama lagi. Juga ada beberapa ucapan syukur yang hendak didoakan dalam dzikir ini,” tambah Sekretaris Panpel Kotamobagu Berdzikir, Dolly Zulhadji SH.
                                Karena itu, atas nama panitia dan pemkot, Sande Dodo dan Dolly Zulhadji mengajak serta mengundang seluruh masyarakat muslim yang ada di Bolmong bersatu, untuk dapat ambil bagian dalam kegiatan tersebut. “Lokasi kegiatan dzikir ini mengambil tempat di Lapangan Molinow. Namun demikian, panitia juga mendirikan tenda di sekeliling Masjid Molinow, sebagai antisipasi manakala cuaca tiba-tiba tidak memungkinkan dilakukan dzikir akbar di lapangan,” tukas Sande yang sehari-hari dikenal sebagai Kadis PU Kota Kotamobagu.(cop)

                                Sumber: Harian Komentar, 28 Juni 2010

                                Kasus CPNS KK Ada Tersangka

                                Kepala BKD Susul Sekkot

                                KOTAMOBAGU — Penyidikan kasus rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kota Kotamobagu yang ditangani Polda Sulawesi Utara terus berlanjut. Setelah Sekretaris Kota KK Mohammad Mokoginta dicecar penyidik Satuan III Ditreskrim Polda Sulut pekan lalu, pekan ini giliran Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) KK Idris Manoppo akan diinterogasi keterlibatan di tes sampai pengumuman CPNS 2009 silam.
                                Sayangnya, Idris ketika akan dimintai tanggapan via telepon selular, enggan menjawab. Namun, wawancara terakhir Idris mengaku siap diperiksa terkait proses rekrutmen CPNS. “Sampai saat ini saya belum menerima surat panggilan pemeriksaan. Kalau nantinya ada, saya siap memberikan keterangan,” aku Idris, yang diwawancarai pekan lalu.
                                Pemeriksaan Mokoginta di ruangan satuan III Diterskrim Polda Sulut, kemarin, dikatakan, penyidik hanya meminta klarifikasi terkait proses perekrutan CPNS 2009. Mokoginta menyebutkan, dicecar 3 pertanyaan, yang memakan waktu hanya sekira setengah jam saja. “Saya tidak lama berada di Polda. Hanya sekira setengah jam saja, setelah itu saya langsung pulang,” terangnya.
                                Pemeriksaan Idris dari bocoran sumber di Polda Sulut, sudah meningkat menjadi penyidikan. Meningkatnya status ke tahap penyidikan, mengarah pada penyimpangan dan sudah akan ditetapkan tersangka.
                                ‘’Kalau sudah masuk penyidikan berarti akan ada tersangka,’’ujar sumber berpangkat pama.
                                Kabid Humas AKBP Benny Bella masih mengelak, sampai saat ini belum ada peningkatan status akan kasus CPNS Kotamobagu. “Kasus itu masih dalam tahapan penyelidikan Polda Sulut,” ujarnya.
                                Disisi lain, Bella membenarkan kalau Polda Sulut akan memeriksa semua pejabat Pemkot Kotamobagu yang terlibat dalam kekisruhan proses rektumen CPNS. “Semua oknum yang terkait, dijamin tidak akan lolos dalam pemeriksaan penyidik. Kami (Polda Sulut, red) tidak pernah main-main dalam menangani kasus yang terjadi,” tegasnya.
                                Pernyataan Kabid Humas Polda Sulut itu, jelas mengindikasikan, kalau Wali Kota Kotamobagu Drs Djelantik Mokodompit dan Wakil Wali Kota Kotamobagu Ir Tatong Bara, sampai panitia rekrutmen juga tidak akan luput dari ‘kursi panas’ pemeriksaan. (fir/ham)

                                Sumber: Manado Post, 28 juni 2010

                                Hanya 150 CPNS KK Bisa Dapatkan NIP

                                Jakarta, KOMENTAR
                                Anggota DPR RI asal Sulut, Yasti Soepredjo Mokoagow mengatakan, informasi yang diterimanya dari BKN (Badan Kepegawaian Nasional), bahwa yang dinyatakan lulus seleksi CPNS tahun 2009 di Kota Kotamobagu (KK) hanya 150 orang lebih. “Kemarin saya mendapat penjelasan dari BKN, bahwa CPNS KK tahun 2009 yang dinyatakan lulus seleksi sebanyak 150 orang lebih. NIP-nya sedang diproses untuk diterbitkan,” kata Yasti kepada Komentar melalui telepon selularnya, Jumat (11/06) kemarin.
                                Jumlah tersebut merupakan hasil verifikasi tim yang dibentuk Kemenpan (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara) yang terdiri dari BKN, BKD dan Menpan atas hasil temuan di lapangan. “Tim tersebut menemukan kecurangan dalam seleksi CPNS tersebut,” tambah Yasti seraya merinci kecurangan itu, di antaranya ada yang tidak lulus seleksi, tapi dinyatakan lulus.
                                Parahnya lagi, CPNS yang mendapat nilai 100 malah dinyatakan tidak lulus. Tapi yang mempunyai nilai 90 malah lulus, ungkapnya. Disinggung nasib 200 orang lainnya yang sudah dinyatakan lulus, politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengaku, Menpan sudah mengirim surat ke Pemkot KK terkait persoalan tersebut.
                                Namun surat tersebut sampai kemarin, belum direspons Pemkot KK. Padahal surat Menpan tersebut batas waktunya sampai 31 Mei lalu. “Batas Surat tersebut sampai 31 Mei lalu. Tapi tidak ada jawaban dari pemkot,” katanya seraya menambahkan isi surat Kemenpan yakni menawarkan dua opsi. Opsi pertama, standardisasi terhadap 200 orang lebih itu bersama 3.000 lebih pelamar CPNS atau diranking ulang. Artinya, dilakukan seleksi lagi terhadap semua yang mendaftar sampai terpenuhi kuota penerimaan CPNS.
                                Pada bagian lain, Yasti membantah dirinya tidak aspiratif terhadap persoalan tersebut. Malah berulang kali dirinya meminta penjelasan dari Men-pan dan BKN terhadap nasib CPNS tersebut. Dia mengaku telah memperjuangkan keadilan terhadap nasib ribuan CPNS yang ikut seleksi. “Kami membela ribuan orang yang haknya dirampok. Perjuangan saya untuk memenuhi rasa keadilan,” tandasnya.
                                Selain itu, dia mempertanyakan pemeriksaan terakhir CPNS yang dilakukan di salah satu hotel di KK. “Kenapa hasil akhir pemeriksaan tes CPNS dilakukan di salah satu hotel di KK,” tandasnya. Oleh karenanya dia mengimbau semua pihak berpikir jernih dan tidak saling tuduh atas persoalan tersebut. Sementara Menpan dan Reformasi Birokrasi, EE Mangindaan mengatakan, persoalan tersebut sudah diproses di BKN.
                                Proses tersebut dilakukan oleh tim BKN yang sudah ke lapangan meneliti duduk persoalannya. “Bagi yang sah lulus, tetap diangkat. NIP-nya kami minta secepatnya diproses,” tukasnya.
                                Deputi SDM Aparatur, Ramli Naibaho menambahkan, pihaknya terdepan untuk menertibkan pelanggaran terutama dalam reformasi birokrasi. Bahkan dia tidak mempersoalkan datangnya pengaduan kecurangan itu.
                                “Pengaduan tersebut tidak menjadi soal datangnya dari mana. Intinya ada pelanggaran atau tidak. Lagi pula tahun lalu KK sudah diperingatkan melalui surat Menpan,” katanya tanpa merinci surat dimaksud.(zal)

                                Sumber: Harian Komentar, 12 Juni 2010

                                Hanya 49% CPNS Di SK kan

                                Tatong-Djelantik Tidak Berbarengan ke Menpan

                                KOTAMOBAGU — Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPan-RB) Letjen (purn) EE Mangindaan dan BKN menunda penetapan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kota Kotamobagu. Sampai saat ini belum diketahui alasan penundaan tersebut.
                                Kabar dari Wakil Wali Kota Kotamobagu Ir Tatong Bara yang lagi di Jakarta, MenPan belum berani memutuskan. Dengan nada ragu, srikandi PAN ini mengaku takut menjawab salah. Ia mengaku akan berbicara panjang lebar dan membeberkan semua persoalan yang menghambat keluarnya SK dan NIP para CPNS. “Nanti besok (hari ini, red) saja saya bicara. Untuk saat ini, biarkan dulu proses penyelesaian di tingkat Menpan,” ujar Tatong yang mengaku menghadap MenPan tanpa didampingi wali kota.
                                Bocoran dari staf di BKD, berbagai  temuan yang improsedural itu, seperti adanya pelamar CPNS yang tidak mengikuti ujian lantas diluluskan, kemudian pelamar yang tidak lulus berkas diluluskan, Menpan-RB tetap bersikeras akan menganulir CPNS yang lulus tidak murni.
                                ‘’Yang kami dengar penetapan SK dilakukan besok (hari ini-red). MenPan kemungkinan akan menganulir yang lulus tidak murni dan akan menerbitkan SK dan NIP CPNS yang lulus murni. Bocorannya, hanya sekira 49 persen saja dari 352 CPNS yang lulus murni,’’bisik sumber Selasa kemarin.
                                Sayangnya, upaya konfirmasi dengan Menpan-RB EE Sejauh ini kabar SK CPNS masih simpang siur. Mangindaan belum berhasil dihubungi nomor telepon selularnya 081717xxxx tidak aktif. Demikian pula upaya konfirmasi dengan Wali Kota Kotamobagu, belum mendapat jawaban. (fir/ham)

                                Sumber: Manado Post, 2 Juni 2010

                                CPNS Kotamobagu Kian Meradang

                                -Sehari Semalam Duduki Kantor Walikota
                                -Rencanannya Segera Lakukan Penyegelan Kantor
                                POSKO, KOTAMOBAGU- Sudah terhitung sehari semalam ratusan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) rekrutmen 2009, menduduki kantor Walikota Kotamobagu. Mereka terus meminta pertanggungjawaban pihak Pemkot terkait menggantungnya nasib mereka dan tak kunjung dipekerjakan dengan dasar dikeluarkannya Surat Keputusan yang hingga kini semakin tak jelas saja.

                                Sejak Senin (31/5) hingga Selasa (1/6) kemarin, tetap dalam pengawalan pihak kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Po-PP), mereka bertahan di aula kantor walikota, menunggu kedatangan para pejabat yang dianggap sebagai aktor di balik tak jelasnya nasib mereka, seperti Walikota Drs H Djelantik Mokodompit, dan Wakil Walikota Ir Tatong Bara, serta Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah (BKDD) Idris Manoppo.
                                Di sela-sela penantian itu, sempat diwarnai aksi demo dan penyampaian orasi dari puluhan aktivis mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Dwi Dharma Kotamobagu, sebagai bentuk dukungan moral bagi para CPNS dan desakan agar Pemkot segera memberi kepastian terkait masalah tersebut.
                                Informasi lain yang berhasil dihimpun, Walikota Kotamobagu, Djelantik didampingi Kepala BKDD Manoppo, kemarin sedang melakukan pertemuan dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kepala BKN Pusat, untuk mendapatkan kepastian mengenai nasib para CPNS kedepan.
                                Namun, selentingan isu yang juga telah sampai ke telinga para CPNS yang mengaku tak sabar lagi menunggu, SK yang mereka harapkan semakin sulit diterbitkan menyusul adanya cukup banyak nama yang masih bermasalah, bahkan terpaksa akan dianulir, karena dinyatakan lulus CPNS tanpa melalui proses dan mekanisme yang berlaku.
                                Meski begitu, para CPNS mengaku akan tetap menunggu kedatangan walikota untuk meastikan itu sendiri, sambil merencanakan apak yang mereka lakukan jika memang nanti SK mereka tetap tidak dikeluarkan. Kami akan tetap tunggu, dan jika memang tidak ada kepastian bahkan kami disia-siakan, maka kantor walikota akan kami segel, ujar para CPNS melalui Korlap Hendra Manggopa dan Sam Mamonto. (708)

                                Sumber: Harian Posko Manado, 2 Juni 2010