Gayus Bolmong Larikan Diri

TPP dan Gaji Helmy Bakal Ditahan

BOLMONG — Aksi makelar pajak (maja) Gayus Tambunan melarikan diri dari kejaran penegak hukum, ditiru  HW alias Helmy yang diduga makelar PNS. Helmy yang dilaporkan puluhan warga Imandi, Dumoga ke Kepolisian Resor (Polres) Bolmong menghilang usai dijemput petugas polisi kehutanan (Polhut) di rumahnya, Selasa (13/4) kemarin.
Setiba di Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bolmong, si makelar mengelabui petugas dengan menyatakan dirinya akan bertanggungjawab.  Dia pun izin pamit membeli rokok di warung depan Dishutbun. Sekian menit ditunggu, Helmy tak balik lagi ke kantor Dishutbun.
‘’Maaf dia (Helmy) dia mengaku beli rokok, tapi sampai sekarang tidak balik lagi,’’aku Kepala Dishutbun Yoyok Lihawa kemarin.

Amarah Yoyok yang kala itu didampingi Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Sudibyo Lasabuda, marah sekaligus malu karena
tidak menyangkan stafnya itu akan melarikan diri. ”Saya sangat mendukung untuk mempolisikan yang bersangkutan (Helmy),” ujar Yoyok.
Bahkan, Yoyok meminta langsung kepada bagian Keuangan Pemkab Bolmong, untuk menahan tunjangan tambahan penghasilan pegawai (TPP) selama tiga bulan. Juga, kalau Helmy, warga Kotobangon itu belum juga bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, maka termasuk gajinya akan ditahan. ”Soal sanksi terkait statusnya sebagai PNS, kami serahkan hal itu ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Yang jelas, kami mendukung proses hukum,” ujar Yoyok, yang diulangi Sudibyo.
Apa yang dilakukan Helmy, sejak awal sudah diketahui atasannya. Karena,dugaan penipuan bukan baru kali ini dibuatnya. Sudibyo mengatakan, Helmy sempat mengistilahkan kelompok 16, kelompok 17 dan kelompok 21. ”Kelompok itu maksudnya, sesuai dengan jumlah orang yang diduga termakan tipu Helmy,” ujarnya.
Dari jumlah itu, kalaupun dikalikan dengan nominal uang terkecil yang diminta Helmy senilai Rp5 juta, maka uang yang didapat Helmy sekira Rp270 juta. Belum ditambah beras dan biaya lain-lain saat Helmy bersama rekan-rekannya datang berkunjung. ”Kami kumpul uang untuk belanja makanan, sembelih ayam dan uang jalan, termasuk biaya sewa kendaraan yang dipakainya,” ujar Lucky.
Sampai saat ini, keberadaan Helmy tidak diketahui. Pihak Dishutbun sudah beberapa kali menghubungi telepon selularnya, tetapi tidak aktif. Begitu pun saat bertandang lagi ke rumahnya, Helmy tidak berada ditempat. Istrinya hanya mengatakan, keluar sejak pagi.
Namun, informasi itu langsung dibantah para korban. Menurut Lucky, korban yang lain menyaksikan dengan mata kepala sendiri, beras diantar ke rumahnya. Malah para korban ini ikut mengangkat beras ke dalam rumahnya. Tidak hanya itu, sempat berjabat tangan langsung dan Ferry sempat meminta uang Rp1 juta, untuk dirinya berangkat ke Jakarta mengurusi THL. ”Kami yang berjabat tangan dengan pak Ferry,” ujar Lucky. (fir)

Sumber: Manado Post, 14 April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: