Ambil Kembali Amplop, Seng, Beras Hingga Lampu Jalan

Cerita Caleg Tak Terpilih Pasca Pemilu

Sudah 9 hari masyarakat meninggalkan pesta demokrasi, pemilu legislatif 9 April. Ada yang gembira karena hampir pasti duduk di kursi empuk 5 tahun ke depan, ada yang ketakutan karena merasa belum aman, bahkan ada yang mulai mengambil kembali ’sogokan’ dari warga, yang diberikan sebelum pemilu lalu. Di Kotamobagu, ada caleg yang merasa sudah tidak lolos mulai merapat ke konstituen. Bukannya bersenang-senang, tapi justru si caleg ingin mengambil kembali uang, beras, seng, kursi, sound system, hingga lampu jalan, yang diberikan lalu. Dengan alasan konstituen ini tidak memilihnya saat pemilu. Si caleg dengan mengerahkan suruhannya menagih amplop itu. Ada yang kembalikan, tapi ada juga yang tidak mau mengembalikan dengan alasan mereka tidak minta. ”Mereka sendiri yang berikan, bukan kami yang minta,’’ kata sejumlah warga Kotamobagu. Jika di Kotamobagu uang, di Bolmong malah barang. Berupa bahan bangunan, dll. Seperti di Modayag, Bolmong Timur, ada caleg yang ambil kembali seng karena orang yang diberikan seng tersebut ternyata tidak mencontrengnya. ”Di Bolmong ikut ambil barang yang sudah diberikan,’’ kata Arhans Daud dan Andre Poga, warga Kotamobagu. Mendengar hal tersebut Kakandepag Bolmong Hi Suhada Mokoagow mengatakan, segala sesuatu yang menyangkut pemberian seseorang bila dimulai dengan tidak ikhlas maka bukan mendatangkan pahala tetapi kemudaratan. ”Jadi segala sesuatu harus dimulai dengan rasa ikhlas. Jadi kalau tangan kanan memberi tangan kiri tak perlu tahu,’’ kata Suhada. (ronald)

Sumber: Manado Post, 18 April 2009

SBY Beri Signal Berduet JK Lagi

Jakarta, Harian Komentar
Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK) sudah terbuka menyatakan keinginannya untuk berpasangan lagi dengan SBY di Pilpres 2009 mendatang. Gayung pun bersambut, karena SBY meski belum menyatakan secara terbuka, namun mulai memberi signal bahwa JK adalah cawapres yang mumpuni.
Buktinya, SBY secara khusus mengungkit prestasi fenomenal Wapres Jusuf Kalla (JK). Terutama dalam tercapainya perjanjian damai RI-GAM di Helsinski tiga tahun silam. Peran penting JK sepanjang proses perundingan pemerintah RI dan GAM, diungkit SBY dalam acara pembubaran Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias di Istana Negara, Jakarta, Jumat (17/04).
Operasi tanggap darurat dan pemulihan pasca tsunami tidak akan berhasil bila konflik bersenjata masih berlangsung. Presiden SBY ingat benar bahwa sepanjang masa tanggap darurat dan tahap awal rekontruksi, ada rasa was-was dan cemas terhadap kondisi ke-amanan di Aceh. Meski dua pihak terlibat konflik sadar harus untuk saling bahu membahu, tetap saja dibayangi kecurigaan dan permusuhan.
“Tapi kepercayaan terus dibina, perlu negoisasi yang baik. Pak JK punya banyak peran di situ,” ujar SBY. Peran penting JK di Aceh berlanjut pada tahapan rekontruksi dan rehabilitasi. Ketika struktur organisasi BRR sedang disusun, JK aktif memberikan masukan agar lembaga yang bertugas membangun kembali Aceh tersebut mendapat otoritas penuh dalam me-nunaikan tanggungjawabnya dan bebas dari intervensi pemerintah.
“Kalau terlalu banyak intervensi pemerintah, nanti malah bingung. Saya banyak berdiskusi dengan Pak JK soal itu” ungkap SBY sambil menunjuk ke arah JK yang duduk di seberang podium. Apakah ini sebuah isyarat duet SBY-JK akan dilanjutkan?
Partai Golkar sendiri menyatakan telah merasakan signal bahwa Partai Demokrat setuju untuk bersanding kembali. “Kami sudah mendapat sinyal kuat bahwa Demokrat akan berkoalisi dan menggandeng cawapres dari kami,” ujar Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso, dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/04).
Meski demikian, Priyo masih enggan membeberkan sinyal seperti apa yang partainya dapat dari PD. Apakah dari pertemuan Cikeas? “Saya tidak bisa menjawab,” elak-nya. Ditanya lebih lanjut apakah keyakinan Golkar akan digandeng PD sudah mengerucut kepada Jusuf Kalla sebagai cawapres SBY atau belum, Priyo kembali mengelak. “Saya tidak bisa men-jawab,” elaknya lagi.
Sementara itu, sumber di internal Partai Golkar mengatakan, saat ini sudah ada tujuh nama cawapres terkuat yang digembar-gemborkan oleh sejumlah DPD Golkar untuk mendampingi SBY. Nama-nama tersebut antara lain Jusuf Kalla, Surya Paloh, Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Sri Sultan Hamengkubuwono dan Priyo Budi Santoso. “Tu-juh Nama ini dari hasil surat edaran (capres) yang lalu,” katanya. Ia menjelaskan, berhubung pengajuan capres tidak realistis lagi, maka surat edaran yang sedianya digunakan untuk menjaring capres kini dipakai untuk melihat peta usulan cawapres dari daerah. “Kini di lapangan daerah-daerah pun bergejolak. Para tokoh pun turun gunung,” pungkasnya.
Golkar sendiri telah membahas format koalisi dan ma-salah calon wakil presiden (cawapres) dalam rapat pengurus pleno Partai Golkar yang dihadiri sang Ketua Umum Jusuf Kalla (JK), kemarin. “Pertama format koalisi kedua soal calon cawapres ketiga tata caranya,” kata JK sesaat setelah keluar dari ruang rapat, DPP Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Jakarta Barat, kemarin. Rapat berlangsung dua jam lebih. Dimulai pukul 16.00 WIB dan berakhir pukul 18.10 WIB.(jim/dtc)

Sumber:  Harian Komentar, 18 April 2009