Butet Tabah, Didi Bangga Ayahnya

PAGI kemarin (26/2) sekitar pukul 09.30 Wita suasana rumah dinas Bupati Bolmong di Bukit Ilongkow Kelurahan Kotobangon Kecamatan Kotamobagu Barat, Kota Kotamobagu terlihat sepi.
Maklum, mereka baru mendapat kabar bahwa Syamsuddin Kudji Moha, suami Marlina Moha Siaahan, resmi ditahan atas tuduhan kasus dugaan penyalahgunaan dana Persibom Rp10,5 miliar.
Sambil duduk di kursi sofa kecil di ruang tamu wartawan koran ini coba menyambangi Butet – sapaan akrab Ny Marlina Moha Siahaan– yang sedang istirahat di Bukit Ilongkow itu. Sambil duduk nonton TV disuguhi kopi hangat ala Ilongkow. Ajudan, petugas jaga Sat Pol PP, dan polisi berpakaian preman pun terlihat ramah. Termasuk TUP (Tata Usaha Pimpinan) merangkap sespri tak kala memberikan sapa dan salam dengan penuh keramah-tamahan.
Pun Royke Tandayu sempat mengeluarkan sapaan mempersilahkan duduk sambil menunggu Butet yang sedang sarapan pagi. “Tunggu sadiki Nal (wartawan koran ini, red). Ibu Bupati sedang sarapan pagi,’’ kata Royke, sambil berlalu ke dalam rudis. ‘’Tunggu sadiki ne Nal,’’ sambung adik kandung Butet, Ida Siahaan yang biasa disapa Mama Indra itu.
Baru sekitar pukul 10.35 Wita dipanggil Royke untuk masuk ke dalam ruang khusus Butet. Royke yang didampingi ajudan Ino dan Jun sambil menuntun koran ini masuk ke ruang tersebut. Ada sekitar 2 ajudan perempuan yang duduk di kursi sofa bersama sespri lainnya sambil duduk ngerumpi.
Saat masuk di ruang khusus Butet yang berukuran sekitar 5 kali 5 meter itu wartawan koran ini dengan santun menyapa satu persatu dengan kalimat salam. Mereka pun membalas dengan salam dan balasan senyum sambil mempersilahkan koran ini duduk di kursi sofa sedang bercorak coklat sambil nonton TV.
Tak lama berselang (sekitar 5 menit berlalu duduk di kursi sofa), Butet keluar dari arah samping kanan ruangan yang ditutupi kain hordeng besar. Butet yang hanya mengenakan daster bercorak coklat itu menyapa koran ini dengan kalimat Dega Niondon (selamat datang) dan memberi.
Sambil menebar senyum, Butet mempersilahkan koran ini kembali duduk di atas sofa. Mama Didi, sapaan kekeluargaan untuk Butet– duduk di salah satu sofa. Sambil mengusap wajah dan melipat kaki, Butet bercerita panjang lebar. Satu persatu Butet memberikan kata hati alias ungkapan hati paska penahanan sang suami, Kudji Moha. ‘’Sebagai istri tentu turut merasakan apa yang ada di dalam hatinya (Syamsuddin Kudji Moha, red). Papa Didi merupakan bagian dari hidup saya,’’ aku Butet, kemarin.
Papa Didi –begitu Butet memanggil suaminya-, adalah bagian dari warga negara. Tentunya sebagai warga negara yang baik harus taat terhadap hukum yang berlaku di NKRI ini. Selaku istri tentu mempersilahkan Papa Didi diproses tentunya berdasarkan satu proses hukum dengan tidak mengenyampingkan asas praduga tak bersalah. Papa Didi sebagai pemimpin dalam keluarga dan masyarakat, serta pimpinan partai tentu selalu berjiwa besar dan memiliki semangat yang membaja, serta memiliki satu ketegaran jiwa,’’ kata Butet. ”Jadi, apapun cobaan yang dituduhkan kepada suami saya semua ada hikmahnya. Itulah rahasia Allah SWT. Kita serahkan semuanya kepada proses hukum yang sedang berlangsung. keluarga kita juga tetap tabah,’’ katanya.
Juga Butet berpesan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga persatuan dan kesatuan. Butet mengatakan, hadirnya Persibom bukan hanya sekedar alat promosi saja, tetapi bagian dari alat pemersatu. Itulah sebabnya, semua diserahkan kepada proses hukum yang berjalan. ‘’Yang pasti, sebagai istri tetap memberikan support penuh, Papa Didi harus tetap tegar dalam menghadapi semua ini,’’ katanya lagi.
Butet menambahkan, sebagai istri tetap selalu memberikan doa agar Papa Didi tetap diberikan Allah SWT suatu ketabahan, ketegaran jiwa, kesabaran, dan semangat juang. Karena ini semua adalah rahasia Allah SWT. ‘’Yang terpenting Papa Didi jangan lupa tetap minta ridho dan petunjuk kepada Allah SWT,’’ pesan Butet mengakhiri pembicaraan.
Sama halnya yang dirasakan putra sulung Kudji, Aditya Anugrah ‘Didi’ Moha S.Ked. Didi yang duduk di atas sofa Lantai II di rumah pribadi jalan Paloko-Kinalang Kotobangon merasakan dampak ditahannya Kudji.
Didi yang ditemani putra sulung Maulana Bayu Moha, dan beberapa kerabat kerja, termasuk mantan finalis idola cilik Abner Korompis, dan adik kandung Butet, Oktaf Siahaan, membicarakan topik yang sama. ‘’Saya sebagai anak bangga karena beliau (ayah Didi, Syamsuddin Kudji Moha) dengan jiwa besar bisa mengangkat Persibom hingga dikenal masyarakat luas. Tidak hanya lokal dan nasional, tetapi kancah internasioanal,’’ ujar Didi, yang saat itu sedang santai di rumah pribadinya lantai II.
Didi menambahkan, ini satu kebanggaan anak terhadap orang tua karena ayah mampu membawa Persibom hingga bisa berbicara di tingkat nasional sampai ke Asia Tenggara, lebih khusus mewakili Indonesia bermain di Sabah Malaysia. ‘’Saya support beliau (Kudji Moha, red) karena merupakan sosok ayah yang telah mendidik, memelihara dan membesarkan saya,’’ ungkapnya. ‘’Benar-benar harga diri dipertaruhkan hanya untuk daerah ini,’’ tambahnya.
Semua ini, menurut Didi, harus dihadapi dengan tegar dan ikhlas, serta berserah diri kepada Allah SWT. Ayah saat ini sedang menjalankan satu proses supremasi hukum, Dalam menjalankan proses ini tentunya diharapkan tetap menganut asas praduga tak bersalah. ‘’Papa saya pun sempat menelepon, malah bukan saya (Didi Moha, red) yang dahulu memberikan support. Tetapi papa terlebih dahulu yang memberikan support agar saya tetap berjuang karena masyarakat sangat merindukan saya,’’ aku Didi, menirukan pernyataan Kudji Moha.(ald)

Sumber: Manado Post, 27 Pebruari 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: