Sambut WOC 2009

2 Objek Wisata Diandalkan Bolmong

Bolmong—Menyusul lolosnya tarian daerah penjemputan tamu dari Bolmong, Tari Kabela, sebagai tarian penjemputan bagi semua delegasi negara-negara yanbg akan mengikuti World Ocean Conference (WOC) nanti, membuat pihak Pemkab bergegas melakukan persiapan khusus untuk salah satu objek wisata Totabuan ini.

“Setelah saya mempresentasikan sinopsis tentang Tari Kabela, Panitia WOC akhirnya memutuskan untuk menggunakan Tari Kabela sebagai tarian penjemputan tamu di WOC. Kita pantas berbangga sekaligus bersyukur, karena seni tari di Bolmong bakal diperkenalkan kepada dunia,” kata Kepala Dinas Pariwisata Bolmong Dra. Hj. Hasna Damopolii.
Untuk itu pula, Damopolii menegaskan kini pihaknya sedang memeprsiapkan dua tim penari kabela. Sebab kalau hanya satu tim, dikhawatirkan penarinya akan kecapaian, mengingat mereka harus stand by 1 x 24 jam.
Pada bagian lain, Hasna Damopolii juga mengatakan Dians Pariwisata menyambut positif serta mendukung penuh WOC. Sekaligus akan ikut meramaikannya dengan mempromosikan objek-objek wisata di Bolmong. “Ada dua objek wisata yang kami akan jual dan promosikan di WOC nanti, yakni Objek pemandian air panas bakan dan Hutan Lindung Dumoga Nani Wartabone,” katanya.
Dalam proses persiapan khusus untuk objek pemandian air panas bakan, lanjut dia, pihaknya telah bekerja sama dengan Dinas PU Kimpraswil Bolmong untuk memperbaiki jalan masuk ke lokasi wisata. Sekaligus menempatkan empat personel di lokasi wisata yang bertugas memelihara dan merawat kebersihan.(esbe)

Sumber: swarakita-manado.com, 27 Pebruari 2009

Larangan Knalpot Racing

Kasatlantas Luruskan Kontroversi

Bolmong—Sampai saat ini, masih banyak masyarakat yang memprotes menbgapa knalpot racing dilarang digunakan, sementara toko-toko bebas menjualnya. Hingga ada warga yang beranggapan, Knalpot Racing adalah barang terlarang yang dijual bebas. Juga banyak yang mempertanyakan, kalau knalpot racing adalah barang terlarang, mengapa toko penjualnya tidak dirazia saja.

Atas pandangan seperti itu, Kapolres Bolmong lewat Kasat Lantas AKP Robby Septiadi SIK pun angkat bicara. Dalam perbincangan dengan Swara Kita kemarin, Robby menjelas-kan bahwa knalpot racing itu hanya digunakan untuk kenda-raan balap saja. Sehingga kalau dipergunakan pada kendaraan yang bukan utnuk balapan resmi, jelas dilarang. “Namanya saja knalpot racing, jadi hanya untuk dipergunakan di balapan. Kalau tujuan lain, tentu itu melanggar aturan,” terangnya.
“Soal pertanyaan mengapa polisi tidak merazia toko penjual knalpot racing, memang kami tidak boleh melakukannya. Sebab penjualannya tidak dilarang. Yang dapat kami lakukan, hanya mengimbau kepada toko penmjual, agar hanya menjual knalpot racing kepada kendaraan yang dipakai untuk balapan,” jelasnya lagi.
Pada bagian lain, Robby mengatakan ribuan knalpot racing yang telah disita selama beberapa bulan terakhir akan segera dimusnahkan. Setelah aparat kepolisian berkoordinasi dengan Pengadilan Negeri Kotamobagu.
“Barang bukti pelangagran lalu lintas teresbut kini masih disimpan di kantor satlantas Bolmong. Mudah-mudahan, setelah koordinasi selesai dengan pihak Pengadilan Negeri, kami sudah dapt memusnahkannya,” ungkap Robby.(esbe)

Sumber: swarakita-manado.com, 27 Pebruari 2009

SKM Ditahan

MMS: Kami Hargai Proses Hukum yang Sedang Berlangsung

Paparang: Mari Hormati Azas Praduga tak Bersalah dalam Persibom-gate Ini

Manado—SKM alias Kudji kemarin ditahan pihak Polda Sulut, terkait penyidikan kasus dana Persibom, yang ditata dalam APBD 2006. Penahanan terhadap Ketua Dekot Kota Kotamobagu ini dilakukan sekitar pukul 00.05 Wita dini hari Kamis (26/2) kemarin. Menurut sumber resmi, SKM ditahan usai diperiksa secara maraton pada Rabu (25/2) lalu. Pihak keluarga SKM sendiri menyerahkan proses hukum ini ke pihak yang berwenang. “Kami menghargai proses hukum yang sedang berlangsung. Kita ikuti saja sambil berdoa supaya lekas selesai,” ujar Marlina Moha-Siahaan (MMS), istri SKM, saat dihubungi Swara Kita, tadi malam. Di lain pihak, praktisi hukum Santrawan Paparang SH MH mengatakan, masyarakat harus menghormati azas praduga tak bersalah dalam kasus Persibom ini. “Jangan menghakimi yang terjadi, karena belum tentu yang terlihat dengan mata saat ini secara hukum telah bersalah. Karena dari amatan saya, masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk pembuktian yang sebenarnya,” kata pengacara kondang asal Sulut di Jawa, yang dihubungi saat baru tiba dari Jakarta, kemarin sore. APA ADANYA SKM sendiri gagal saat dihubungi via handphone. Namun lewat Sesprinya, SKM menyatakan dirinya sehat-sehat saja dan tegar menghadapi masalah ini, dan lagi memusatkan konsentrasi pada pemenangan sang putra Aditya Anugrah ‘Didi’ Moha SKed (ADM) ke DPR RI. Sementara itu, sikap tegar dipertunjukkan ADM, manakala mendengar sang ayah sedang menjalani proses hukum di Polda Sulut. Dirinya mengaku, sangat menjunjung tinggi proses tersebut, sekaligus menitip pesan kepada seluruh masyarakat Bolmong, bahwa dia akan tetap sebagai ADM yang dikenal masyarakat saat ini. “Saya tetap ADM seperti apa adanya, sebagaimana yang dikenal masyarakat Bolmong dan Sulut. Sebagai adalah kader yang terdidik, bukan hidup dengan kemanjaan, saya mendukung tinggi proses hukum yang sekarang sedang dihadapi ayah saya dengan tentu selalu menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah,” ungkap Didi-sapaan ADM kepada sejumlah wartawan, kemarin. Didi juga meminta kepada pendukung dan simpatisannya, agar melihat persoalan yang menimpah ayahnya dengan objektif dan proporsional. Sebab bagaimana pun juga, hukum masih tetap berproses dan selalu banyak hal yang bisa terjadi tanpa diperhitungkan sebelumnya. “Saya juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Bolmong khsusnya para pendukung dan simpatisan saya, agar selalu berpikir positif, dan bersama-sama menjaga dan memelihara kamtibmas,” ungkapnya lagi. Karena sikapnya yang positif tersebut, ADM menegaskan bahwa dirinya tetap fokus pada target untuk menuju Senayan. Dia menyadari, setiap usaha dan upaya menuju kebaikan, selalu dibarengi dengan tantangan. “Meskipun demikian tantangannya, namun saya tetap berada di garda terdepan untuk berjuang dan membangun Bolaang Mongondow. Sekali mengaku tanjung, bertahan dipukul ombak,” tegasnya sesekali diimbuhi tawa lepas sembari. Dalam wawancara dengan sejumlah wartawan itu, sempat terangkat pula bahwa ADM adalah sosok pemuda yang bersih tanpa cela. Sehingga terindikasi ada upaya-upaya politis dari oknum-oknum tertentu yang bertujuan untuk menghalang-halangi tekadnya menuju Senayan, dengan cara menjatuhkan pamor keluarganya. Ketika hal itu ditanyakan kepada ADM, pria ini menyambut dengan senyum penuh arti, kemudian menjelaskan bahwa, dalam politik semua bisa terjadi. Namun dia tetap berpikiran positif terhadap segala hal, sehingga nyaris tidak ada waktu untuk menduga-duga mengenai asumsi tadi. Didi juga sempat menyampai-kan pesan untuk sang Ayah. “Saya bangga dan tetap mengagumi ayahanda karena ketaatan terhadap hukum. Ini adalah bagian dari rencana Allah, dan saya mendoakan semoga ayahanda tetap tegar, dan selalu menjadi ayah yang saya kenal dulu. Saya dan keluarga tetap sayang dan mencintai ayahanda,” jawab ADM penuh haru, menambahkan dirinya sendiri akan segera berkunjung di Polda Sulut. Kalau pesan untuknya dari sang ayah? “Tadi malam Ayah menelepon. Ayahanda tertawa dulu sambil berkelakar, lalu menyemangati saya. Katanya harus maju terus, jangan pernah mundur,” pungkas Didi.(hzet/esbe/erem/rr/hz)

Sumber: swarakita-manado.com, 27 Pebruari 2009

Sungai Bulawan Diduga Tercemar Sianida

Polisi Periksa Pemilik Tong yang Bocor, Warga Minta Bapedalda Turun

KOTAMOBAGU—Warga Desa Bulawan Kecamatan Kotabunan, Boltim, dibuat resah dengan dugaan kebocoran tong Sianiada milik Agustaman, pengusaha emas. Bahkan warga yang berada di dekat sungai Bulawan mulai protes minta penghentian operasional usaha pengusaha asal Sulsel itu. “Memang sudah seminggu ini warga resah dengan kebocoran tong sianida yang mengalir ke sungai Bulawan,’’ kata Camat Kotabunan Ny Farida Manoppo SH.
Kapolsek Kotabunan Iptu Alfrets Tatuo membenarkan bila pemilik tong Sianida, Agustaman sedang ditahan untuk dimintai keterangan. Menurut Alfrets, kasus tersebut dalam tahap penelidikan. Lokasi kejadian yang terjadi 14 Februari tersebut, menurut Alfrets, hanya 2 kilometer dari Bulawan. ‘’Kami terus melakukan penyelidikan, dan bila perlu harus dites laboratorium,’’ katanya lagi.
Untuk sementara, kata Alfrets, di muara sungai Bulawan belum ada tanda-tanda pencemaran berupa rusaknya tanaman di sekitar, atau timbul korban manusia maupun hewan. “Tapi ada beberapa barang bukti yang sudah kami ambil,” katanya lagi.
Medi Makalunsenge dan Benny Boroma, warga Boltim, meminta, pihak yang berkompeten segera mengambil langkah. “Bila perlu ada tim Bapedalda bersama kepolisian meneliti lingkungan, dan secepatnya memberi kabar agar warga tidak resah,” ujar mereka. (ald)

Sumber: Manado Post, 27 Pebruari 2009

Malas Setor PAD, SKPD Rapor Merah

KOTAMOBAGU–(SKPD yang ‘malas’ menyetor PAD menjadi perhatian pimpinan Pemkab Bolmong. Pemantauan kinerja SKPD sekaligus evaluasi triwulan sudah dirancang untuk menilai kinerja. “Setelah tutup buku triwulan akan rapat evaluasi,” ujar Wakil Bupati Bolmong Drs Sehan Mokoagow, selaku komandan pengawasan.
Menurut mantan Kabag Keuangan Pemkab Bolmong ini, derajat penilaian akan diekspos, dan akan jadi acuan penilaian kinerja pimpinan SKPD. “Yang malas menyetor PAD dan PBB pasti akan diberi rapor merah,” ujarnya. Penilaian ini, katanya, bukan untuk memperlihatkan sikap Pemkab yang suka atau tidak terhadap pimpinan SKPD atau camat, tapi untuk untuk memacu semangat. “Bagi yang rajin akan diberi award,’’ katanya.
Pernyataan Sehan ini terkait dengan target PAD 2009 yang mencapai Rp9 miliar. Belum lagi sejumlah aset yang biasanya dulu jadi lumbung PAD Bolmong sudah diserahkan ke Kota Kotamobagu. Seperti pasar Tradisional 23 Maret dan Serasi, taman parker kawasan kota, serta terminal Bonawang Mongkonai. “Meski ada optimalisasi, intensifikasi, dan eksentifikasi, asalkan tidak bertentangan dengan aturan,” timpal Kadis PPKAD Ny Hj Ramlah Darwis-Mokodongan. (ald/irz).

Sumber: Manado Post, 27 Pebruari 2009

Hibah Bolsel 1,5 M Diserahkan

KOTAMOBAGU—Hibah berupa uang untuk menunjang kegiatan penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Bolmong Selatan resmi diberikan Bupati Marlina Moha Siahaan.
Sayangnya dari Rp 5 miliar yang akan dihibah pada tahun pertama, baru sebesar Rp 1,5 miliar yang akan direalisasikan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD). Sedangkan sisanya baru ditambah ketika ada permintaan kembali Pemkab Bolsel melalui proposal.
Plt Sekda Bolsel Drs Gunawan M Lombu S.Pd mengatakan, hibah untuk tahun pertama diserahkan pada Jumat (27/2) hari ini. Baru sebesar Rp1,5 miliar dan dana itu untuk pembelian mobil dinas bagi para pimpinan SKPD. ‘’Jadi diajukan sesuai dengan kebutuhan, sisanya nanti menyusul,’’ kata Gunawan, kemarin.
Kadis PPKAD Bolmong Hj Ramlah SE, Msi mengatakan, dana hibah sebesar Rp 5 miliar sudah diproses, tapi semua tergantung pejabat di Bolsel yang diutus mengurus belanja hibah. ‘’Bupati (Bupati Hj Marlina Moha Siahaan, red) sudah merestui dana hibah,’’ kata Ramlah, kemarin.
Penjabat Bupati Bolsel Drs Arudji Mongilong menegaskan, tidak alasan untuk tidak memberikan dana hibah karena jelas diatur di dalam UU 30 tahun 2008. ‘’Sejak Bolsel berdiri, baru Pak Gubernur (Gubernur Drs SH Sarundajang, red) yang memberikan bantuan dana hibah Rp 2,5 miliar, Bolmong tinggal kesadaran bupatinya,’’ kata Arudji. (ald)

Sumber: Manado Post, 27 Pebruari 2007

Sedot 7,801 M, Perkantoran Satu Kawasan

KOTAMOBAGU—Pemkot Kotamobagu terus melakukan pembenahan sarana dan prasarana. Seperti pembangunan perkantoran 15 buah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) akan dibuat satu kawasan.
Rencananya akan dibangun di atas lahan milik warga Mogolaing, dengan luas 1,3 Ha. Lokasinya terletak di kompleks Siti Barokah Konvention Center Kelurahan Mogolaing Kecamatan Kotamobagu Barat.
Menurut Kadis PU Kota Kotamobagu Ir Enna Mokoginta, pembangunan akan dimulai tahun ini. Termasuk kantor wali kota dan wakil walikota. “Proses pekerjaan lebih dari setahun dan menelan anggaran Rp 7,801 miliar. Pelaksanaannya tinggal menunggu petunjuk pimpinan,’’ terang Enna, kemarin
Sementara itu, Wali Kota Kotamobagu Drs Hi Djelantik Mokodompit mengatakan, ke depan kawasan tersebut akan dijadikan pusat pertumbuhan ekonomi regional yang nantinya akan menuju masyarakat sejahtera, sehat, cerdas dan berbudaya. “Dalam mencapai semua itu tentunya butuh tim work dari semua SKPD, termasuk dalam penataan kota dan sarana penunjang perkantoran. Insyah Allah impian untuk meraih Adipura bisa akan terwujud,’’ pungkas Djelantik.(ald)

Sumber: Manado Post, 27 Pebruari 2007

Butet Tabah, Didi Bangga Ayahnya

PAGI kemarin (26/2) sekitar pukul 09.30 Wita suasana rumah dinas Bupati Bolmong di Bukit Ilongkow Kelurahan Kotobangon Kecamatan Kotamobagu Barat, Kota Kotamobagu terlihat sepi.
Maklum, mereka baru mendapat kabar bahwa Syamsuddin Kudji Moha, suami Marlina Moha Siaahan, resmi ditahan atas tuduhan kasus dugaan penyalahgunaan dana Persibom Rp10,5 miliar.
Sambil duduk di kursi sofa kecil di ruang tamu wartawan koran ini coba menyambangi Butet – sapaan akrab Ny Marlina Moha Siahaan– yang sedang istirahat di Bukit Ilongkow itu. Sambil duduk nonton TV disuguhi kopi hangat ala Ilongkow. Ajudan, petugas jaga Sat Pol PP, dan polisi berpakaian preman pun terlihat ramah. Termasuk TUP (Tata Usaha Pimpinan) merangkap sespri tak kala memberikan sapa dan salam dengan penuh keramah-tamahan.
Pun Royke Tandayu sempat mengeluarkan sapaan mempersilahkan duduk sambil menunggu Butet yang sedang sarapan pagi. “Tunggu sadiki Nal (wartawan koran ini, red). Ibu Bupati sedang sarapan pagi,’’ kata Royke, sambil berlalu ke dalam rudis. ‘’Tunggu sadiki ne Nal,’’ sambung adik kandung Butet, Ida Siahaan yang biasa disapa Mama Indra itu.
Baru sekitar pukul 10.35 Wita dipanggil Royke untuk masuk ke dalam ruang khusus Butet. Royke yang didampingi ajudan Ino dan Jun sambil menuntun koran ini masuk ke ruang tersebut. Ada sekitar 2 ajudan perempuan yang duduk di kursi sofa bersama sespri lainnya sambil duduk ngerumpi.
Saat masuk di ruang khusus Butet yang berukuran sekitar 5 kali 5 meter itu wartawan koran ini dengan santun menyapa satu persatu dengan kalimat salam. Mereka pun membalas dengan salam dan balasan senyum sambil mempersilahkan koran ini duduk di kursi sofa sedang bercorak coklat sambil nonton TV.
Tak lama berselang (sekitar 5 menit berlalu duduk di kursi sofa), Butet keluar dari arah samping kanan ruangan yang ditutupi kain hordeng besar. Butet yang hanya mengenakan daster bercorak coklat itu menyapa koran ini dengan kalimat Dega Niondon (selamat datang) dan memberi.
Sambil menebar senyum, Butet mempersilahkan koran ini kembali duduk di atas sofa. Mama Didi, sapaan kekeluargaan untuk Butet– duduk di salah satu sofa. Sambil mengusap wajah dan melipat kaki, Butet bercerita panjang lebar. Satu persatu Butet memberikan kata hati alias ungkapan hati paska penahanan sang suami, Kudji Moha. ‘’Sebagai istri tentu turut merasakan apa yang ada di dalam hatinya (Syamsuddin Kudji Moha, red). Papa Didi merupakan bagian dari hidup saya,’’ aku Butet, kemarin.
Papa Didi –begitu Butet memanggil suaminya-, adalah bagian dari warga negara. Tentunya sebagai warga negara yang baik harus taat terhadap hukum yang berlaku di NKRI ini. Selaku istri tentu mempersilahkan Papa Didi diproses tentunya berdasarkan satu proses hukum dengan tidak mengenyampingkan asas praduga tak bersalah. Papa Didi sebagai pemimpin dalam keluarga dan masyarakat, serta pimpinan partai tentu selalu berjiwa besar dan memiliki semangat yang membaja, serta memiliki satu ketegaran jiwa,’’ kata Butet. ”Jadi, apapun cobaan yang dituduhkan kepada suami saya semua ada hikmahnya. Itulah rahasia Allah SWT. Kita serahkan semuanya kepada proses hukum yang sedang berlangsung. keluarga kita juga tetap tabah,’’ katanya.
Juga Butet berpesan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga persatuan dan kesatuan. Butet mengatakan, hadirnya Persibom bukan hanya sekedar alat promosi saja, tetapi bagian dari alat pemersatu. Itulah sebabnya, semua diserahkan kepada proses hukum yang berjalan. ‘’Yang pasti, sebagai istri tetap memberikan support penuh, Papa Didi harus tetap tegar dalam menghadapi semua ini,’’ katanya lagi.
Butet menambahkan, sebagai istri tetap selalu memberikan doa agar Papa Didi tetap diberikan Allah SWT suatu ketabahan, ketegaran jiwa, kesabaran, dan semangat juang. Karena ini semua adalah rahasia Allah SWT. ‘’Yang terpenting Papa Didi jangan lupa tetap minta ridho dan petunjuk kepada Allah SWT,’’ pesan Butet mengakhiri pembicaraan.
Sama halnya yang dirasakan putra sulung Kudji, Aditya Anugrah ‘Didi’ Moha S.Ked. Didi yang duduk di atas sofa Lantai II di rumah pribadi jalan Paloko-Kinalang Kotobangon merasakan dampak ditahannya Kudji.
Didi yang ditemani putra sulung Maulana Bayu Moha, dan beberapa kerabat kerja, termasuk mantan finalis idola cilik Abner Korompis, dan adik kandung Butet, Oktaf Siahaan, membicarakan topik yang sama. ‘’Saya sebagai anak bangga karena beliau (ayah Didi, Syamsuddin Kudji Moha) dengan jiwa besar bisa mengangkat Persibom hingga dikenal masyarakat luas. Tidak hanya lokal dan nasional, tetapi kancah internasioanal,’’ ujar Didi, yang saat itu sedang santai di rumah pribadinya lantai II.
Didi menambahkan, ini satu kebanggaan anak terhadap orang tua karena ayah mampu membawa Persibom hingga bisa berbicara di tingkat nasional sampai ke Asia Tenggara, lebih khusus mewakili Indonesia bermain di Sabah Malaysia. ‘’Saya support beliau (Kudji Moha, red) karena merupakan sosok ayah yang telah mendidik, memelihara dan membesarkan saya,’’ ungkapnya. ‘’Benar-benar harga diri dipertaruhkan hanya untuk daerah ini,’’ tambahnya.
Semua ini, menurut Didi, harus dihadapi dengan tegar dan ikhlas, serta berserah diri kepada Allah SWT. Ayah saat ini sedang menjalankan satu proses supremasi hukum, Dalam menjalankan proses ini tentunya diharapkan tetap menganut asas praduga tak bersalah. ‘’Papa saya pun sempat menelepon, malah bukan saya (Didi Moha, red) yang dahulu memberikan support. Tetapi papa terlebih dahulu yang memberikan support agar saya tetap berjuang karena masyarakat sangat merindukan saya,’’ aku Didi, menirukan pernyataan Kudji Moha.(ald)

Sumber: Manado Post, 27 Pebruari 2009