Tangani 5 Kabupaten/Kota

Lumowa: Tekad Kami Adalah Bekerja Maksimal

Bolmong—Beban berat ada di pundak Kapolres Bolmong AKBP Set Lumowa. Pasalnya, aparatnya masih bertanggung jawab terhdap suksesnya Pemilu 2009 di lima daerah otonomi baru di Negeri Totabuan. Namun jika ia berhasil melewatinya dengan mulus, seperti suskes pengamanan Pilwako Kotamoabgu dan Pilkada Bolmut, Kapolres bakal bernafas lega bahkan takmenutup kemungkinan utnuk promosi jabatan.
Informasi yang diperoleh harian ini, meskipun Kota Kotmaobagu telah memiliki Polres sendiri, namun alam proses pengamanan Pemilu akan selalu berkoordiansi dengan Polres Bolmong Induk. Dimana pada saat yang bersamaan itu pula, Polres Bolmong Induk sedang melakukan pengamanan Pemilu di empat daerah yang berbeda, masing-masing Bolmong, Bolmong Utara, Selatan dan Bolmong Induk.
“Ya, sudah menjadi tugas kami untuk mengawal suksesnya Pemilu di lima daerah di Totabuan ini. Kami bertekad untuk bekerja semaksimal mungkin, sehigga Pemilu di Bolmong akan berjalan sesuai harapan,” ungkapnya.
Yang menarik, sampai saat ini ternyata Polres Bolmong belum juga menerima dana pengama-nan dari institusi pengelenggara Pemilu, baik dari KPU Bolmong Induk, KPU Kotamoabgu dan KPU Bolmong Utara. Praktis, dalam latihan atau simulasi pengamanan yang kabarnya akan dimulai pekan depan, Polres tampaknya harus membiayai diri sendiri.
Ditanya mengenai hal itu, Kapolres enggan berkomentar. Namun ia bertekad untuk melaksanakan tugas semaksimal mungkin. “Soal dana itu adalah urusan berikut, yang terpenting kita harus mempersiapkan dulu personel untuk pengamanan agenda negara di Bumi Totabuan ini,” jawab Kapolres.(esbe)

Sumber: swarakita-manado.com, 25 Pebruari 2009

Dana Rp 1 Milyar tak Jelas

BOLMONG (25/2/2009): Rencana pemerintah daerah Bolmong untuk membangun sebuah kawasan olahraga lengkap dengan gedung olahraga, yang diberi nama Sport Hall, rupanya harus kandas dan mengakibatkan dana yang sudah dikeluarkan dari APBD ini tak jelas ke mana, karena pembangunan yang tidak jalan dengan sempurna.
Padahal pembangunan Sport Hall yang awalnya dilaksanakan pada tahun 2003 ini, telah menelan anggaran Rp 1,05 milyar, yang dikeluarkan dari APBD 2003 sebesar Rp 500 Juta dan APBD 2004 sebesar Rp 550 Juta, dari total anggaran yang direncanakan yakni Rp 11 milliar.
Sebagaimana pantauan koran ini di lokasi pembangunan Sport Hall yang ada di kawasan Gelora Ambang, hingga saat ini ternyata tidak ada pembangunan yang jelas, dimana hanya terdapat beberapa tiang penyanggah bangunan yang sudah mulai rapuh karena sudah dibiarkan, dan beberapa lapangan olahraga seperti lapangan tenis yang sudah tidak digunakan lagi.
Bahkan, menurut salah satu masyarakat yang dulu sempat melakukan kegiatan olahraga di kawasan tersebut, dulu sempat ada lapangan basket, tapi sudah dibongkar dan dibiarkan menjadi tanah lapang, karena tidak jelas akan dibangun apa.
“Dulu ada lapangan basket di kawasan Gelora Ambang cuma so bongkar. Dorang bilang sih mo bangun gedung, cuma sampe skarang nda jelas dia pe pekerjaan,” jelas Danny salah satu masyarakat yang mengaku dulunya sering beraktifitas di kawasan tersebut.
Sementara, Kepala Dinas PU Bolmong Ir Dadang Nugroho kepada koran ini menyebutkan jika harapan untuk meneruskan pelaksaan pembangunan sport hall sudah terlihat ada gejala akan pupus.Pasalnya menurut Dadang, setiap kali diajukan anggaran untuk melakukan pelaksanaan pembangunan sport hall, selalu tidak diloloskan oleh Dewan Kabupaten, sehingga rencana pada tahun 2003 dan pembangunan yang sudah dilakukan, tinggal menjadi kenangan saja.
“Setiap tahunnya kami ajukan anggaran untuk pelaksanaan pembangunan Sport Hall. Tapi, selalu saja terganjal di panitia anggaran, sehingga tidak ada kelanjutan pekerjaan ini,” jelas Dadang kepada koran ini kemarin, sembari menyebutkan jika saja ada persetujuan dari panitia anggaran pastinya sudah ada pekerjaan lainnya di Sport Hall.(722)

Sumber: poskomanado.com, 25 Pebruari 2009

Tarif Angkot

Bolmong–-Meskipun Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi Bolmong gtelah menyampaikan untuk segera memberlakukan penujrunan tarif angkutan umum, menyusul telah turunnya harga BBM, namun kalangan sopir dan pengusaha terkesan enggan menerapkannya.
Dari perbincangan dengan sejumlah sopir angkutan di Bolmong, mereka beralasan bahwa penurunan tarif angkutan tak pantas lagi dilakukan, karena tidak diiringi dengan penurunan harga kebutuhan pokok maupun onderdil kendaraan. “Bagaimana torang mo kase turun tarif, sementara biaya hidup termasuk harga bahan pokok serta onderdil kendaraan tidak turun. Kami berharap pemerintah dapat mempertimbangkan lagi penurunan tarif itu,” kata Jamal, seorang sopir angkutan trayek Doloduo-Kotamobagu.
Sikap yang sama juga disampaikan ditujukan oleh Organda Kota Kotamobagu. Sekretaris Dolfie Paath, mendesak Pemkot Kotamobagu untuk tidak menerapkan tarif baru yang telah ditetapkan. Lantaran dalam pembahasan, tidak melibatkan kalangan sopir dan pengusaha angkutan umum yang tergabung dalam Organda Kotamobagu.
“Saya telah berkoordinasi dengan Ketua Organda KK Syamsu Makalalag. Dan kami sepakat untuk mendesak pemerintah KK agar tidak menerapkan penurunan tarif,” kata Dolfie.
Diektahui, Pemkab Bolmong pekan lalu lewat Sekretaris Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Bolmong Drs Hamri Binol, mengatakan pihaknya telah menyusun penurunan tarif angkutan yang abru, dan kemungkinan akan diterapkan Maret bulan depan, setelah ditandatangani oleh Bupati Bolmong.(esbe)

Sumber: swarakita-manado.com, 25 Pebruari 2009

SKB-Gate Perlu Ditelusuri

Inspektorat Belum Terima Pelimpahan dari Dewan

Bolmong—Ini patut ditelusuri. Pasalnya, Hearing Komisi 4 Dekab Bolmong Rabu pekan lalu telah memutuskan bahwa SKB-gate alias kasus dugaan penyelewengan anggaran di SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) Diknas Bolmong sebesar Rp 785 juta yang terjadi 2007 silam, telah dilimpahkan ke Badan Inspektorat Pemkab Bolmong. Namun sudah sepekan berlalu, Badan Inspektorat belum kunjung menyentuh persoalan rawan yang boleh jadia kan ditangani oleh aparat penegak hukum.
Belakangan baru diketahui, berdasarkan penuturan Kepala Badan Inspektorat Bolmong Drs Djafar Paputungan dalam perbincangan dengan Swara Kita Selasa (24/02) kemarin, mengatakan ternyata mereka belum menerima belum mene-rima surat rekomendasi tentang pelimpahan wewenang penyidikan terhadap SKB-gate, baik itu dari dewan maupun dari Bupati Bolmong.
“Belum, sampai sekarang kami belum menerima surat pelimpahan dari dewan. Memang biasanya itu dikirim dewan kepada Bupati Bolmong. Lalu Bupati mendelegasikan Badan Inspektorat untuk menanganinya,” kata Paputungan. “Karena belum ada suratnya, tentu kami belum bisa menanganinya. Sejauh ini, saya baru mengetahui persoalan SKB ini lewat pemberitaan media massa,” imbuhnya lagi.
Bagaimana kalau sudah dilimpahkan? Paputungan menjelas-kan, selaku instansi yang berwenang melaksanakan pemeriksaan, pihaknya akan berusaha untuk menuntaskan persoalan ini di tingkat pemerintahan.
Dia juga menegaskan, tidak akan mentolerir apabila dalam pemeriksaan nanti terjadi kejanggalan seperti anggaran yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. “Jelas kami akan bekerja secara profesional. Di satu sisi, kami berharap masalah ini dapat diselesaikan di tingkatan Inspektorat saja,” ungkapnya lagi.
Salah seorang anggota Ko-misi IV Dekab Bolmong Aljufri Kobandaha tampak begitu ter-kejut mendengar SKB-gate belum kunjung ditangani Badan Inspektorat. Padahal tak kurang dari dia dan rekannya Drs Syamsudin Akub telah berulang kali menyatakan bahwa masalah itu sudah dilimpahkan ke Pemkab Bolmong untuk ditangani Badan Inspektorat.
“Saya akan mengecek lagi kepada Pimpinan dewan, apalah surat pelimpahan sudah dikirimkan ke Pemkab Bolmong. Sebab, bila sampai 14 hari masa-lahnya tidak diselesaikan oleh Badan Inspektorat Pemkan Bolmong, maka kasus ini berpeluang ditangani oleh institusi hukum,” katanya. Di satu sisi, bocoran yang diperoleh Swara Kita menyebutkan, bahwa aparat kepolisian juga kini sedang mengumpulkan data terkait SKB-gate dimaksud. Namun Kapolres Bolmong AKBP Set Lumowa SIK, masih enggan mengomentarinya saat dikonfirmasi mengenai kabar tersebut.(esbe)

Sumber: swarakita-manado.com, 25 Pebruari 2009

Kebersihan Kotamobagu Perlu Diperhatikan

Kotamobagu—Tingkat kebersihan wilayah Kotamobagu menuai sorotan. Pasalnya, suasana lingkungan di masa musim penghujan sekarang, memang cukup memprihatinkan. Buktinya, sampah berserakan dimana-mana.
Setelah ditelusuri banyaknya sampah berhamburan dijalanan akibat buruknya sistem drainase yang ada.
Walikota Kota Drs Hi Djelantik Mokodompit yang dikonfirmasi melalui Kadis Kebersihan dan Tata Kota Ir Sahril Gaib mengatakan, pihaknya mengaku bahwa saat ini selalu melakukan pembersihan serta pemantauan kebersihan kota yang ada. “Kalau menyangkut sampah yang mambuangkan masyarakat, tugas saya memang membersikan. Tetapi, kalau mau bersih kota, jangan buang kotoran sembarangan,” ungkap Gaib.
Dan menyangkut saluran yang sering tidak normal itu, Gaib menyatakan, semua itu tugas Dinas Pekerjaan Umum. “Selama ini Dinas Kebersihan Dan Tata Kota kami rasa masih bekerja dengan baik, belum ada yang dipermasalahkan,” katanya.(erem)

Sumber: swarakita-manado.com, 25 Pebruari 2009

Serang 1 Warga Bolmong

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai menyerang di Bolmong. Menurut data Dinkes Bolmong, sudah 1 pasien suspect DBD, atas nama Teddy Siwy (6), warga Tungoi I Kecamatan Lolayan.
Menurut Kasie Bina Pengamatan, Pencegahan, dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Bolmong Vikhan Lomboan, SKM., pasien tersebut sempat di rawat inap selama 4 hari di salah satu klinik seorang dokter senior.
“Belum positif Demam Berdarah, tapi baru sebatas suspect,’’ kata Vikhan, seraya berharap kejadian luar biasa (KLB) seperti Januari-Maret 2008 tidak akan terjadi.
Menurut Kadis Kesehatan Bolmong dr Hi Sjafruddin Mokoginta, perlu diwaspadai tren peningkatan DBD antara Februari hingga April. Katanya, di samping cuaca, juga diakibatkan lingkungan yang tidak bersih. “Seluruh puskesmas diminta tetap memberikan penyuluhan tentang 3 M plus dan bagaimana perilaku hidup bersih dan sehat,’’ kata Sjafruddin, kemarin.
Dokter Uli—sapaanya menjelaskan, bila sudah ada pasien yang positif DBD maka pihaknya akan melakukan fogging di tempat tinggal pasien dengan radius 100 meter. Namun bila lebih dari 2 orang penderita, maka akan di fogging focus. “Fogging hanya untuk membunuh nyamuk dewasa agar tidak menjadi jentik, selebihnya lingkungan harus bersih,” katanya. (ald/irz)

Sumber: Manado Post, 25 Pebruari 2009

Jembatan Totabuan II dan Tapal Batas Tak Terurus

KOTAMOBAGU—Jembatan Totabuan II dan Tapal Batas di Desa Insil Baru Kecamatan Passi Timur butuh perhatian serius dari Pemkab Bolmong. Pantauan wartawan koran ini Selasa (24/2) kemarin, jembatan yang bertuliskan ejaan lama: Djembatan Totabuan II yang mulai dibangun 13-6-1971 dan diresmikan Agustus 1971 itu tidak terawat lagi. Kolam yang menyerupai danau di kawasan tersebut bila tidak segera diantisipasi airnya diperkirakan bisa naik ke lantai jembatan. Begitu juga tapal batas yang berhiasan penari Kabela, catnya mulai pudar. “Jangan sampai tanda perbatasan Bolmong dibiarkan, paling dipelihara,’’ kata jebolan IPB, Syafruddin Mokodompit. Dua personil Dekab Bolmong, Herman Kembuan, SE,Ak dan Fadly Mokoginta, berharap, Pemkab tidak membiarkan tapal batas yang ada di kawasan perkebunan, termasuk jalan dan jembatannya. “Manfaatnya sangat strategis, makanya harus dijaga kondisinya,” ujar mereka berdua. Kadis PU Kimpraswil Bolmong Ir Dadang G Nugroho mengatakan, anggaran untuk infrastruktur jalan dan jembatan tetap dialokasikan dalam APBD. Misalnya, rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan dijatahi sebesar Rp22,134 miliar. Namun, dari data yang diperoleh untuk kawasan Passi hanya ada proyek pembangunan Jalan Bintau-Inuai Passi Barat/Passi Timur senilai Rp750 juta dengan volume 3 kilometer. ”Keluhan akan kami terima dan menjadi bahan evaluasi, tapi tentunya disesuaikan dengan kondisi anggaran,’’ kata Dadang. (ald/irz).

Sumber: Manado Post, 25 Pebruari 2009