Lahirnya Punu’ Molantud

Bogani suami isteri Kueno dan Obayow dalam usaha mereka pergi menangkap ikan di sungai, tidak berhasil. Namun mereka senag juga, setelah mereka memungut sebutir telur di atas kapar (timbunan ranting-ranting kayu) yang sedang hanyut di sungai. Secara kebetulan mereka melihat seekor burung duduk yang baru saja terbang dari kapar itu, sehingga mereka menganggap bahwa telur itu adalah telur burung yang baru saja terbang. Benda yang dianggap telur itu, ternyata adalah kantung bayi yang lahir masih terbungkus dari rahim ibunya. Karena kelahiran itu dianggap aneh, maka kantung itu diletakkan oleh orang tuanya di atas kapar yang sedang hanyut di sungai. Yang kemudian dipungut oleh Kueno dan Obayow. Oleh karena anak yang lahir itu dianggap menetas dari telur burung, maka para bogani, pimpinan seluruh kelompok masyarakat bersepakat untuk mengangkat anak itu menjadi Punu’ Molantud, yaitu pimpinan tertinggi atas seluruh kelompok masyarakat yang tersebar di daerah Bolaang Mongondow. Anak itu diberi nama Mokodoludut, yang berarti menyebabkan bunyi banyak kaki yang berjalan (nodoludut = bunyi gaduh kaki banyak yang berjalan). Banyak orang yang datang melihat bayi yang lahir luar biasa itu, telah turun hujan lebat disertai bunyi guntur sambung menyambung dan halilintar sambar menyambar.
Sebagai catatan perlu diinformasikan bahwa pemberian nama kepada bayi pada masa dahulu, disesuaikan dengan situasi atau peristiwa terjadi bertepatan dengan kelahiran bayi itu, karena penduduk belum mengenal huruf, sehigga belum ada pencatatan tanggal kelahiran. Anak yang lahir bertepatan dengan suatu peristiwa besar diberi nama Ododai = bersamaan. Anak yang sakit-sakitan sejak lahir diberi nama : Ki Napi’I = sakit-sakitan. Yang bertubuh kecil diberi nama : Kandeleng = si kecil; yang lahir ketika salah seorang dari orang tuanya meninggal, diberi nama : sinala’an = ditinggalkan. Nama benda, tumbuhan, hari, hewan dan sebagainya juga dipakai untuk memberi nama bayi, misalnya : Kompe’ = bakul; Kobisi’ = bakul besar; Apat = bengkalai; Longgai = kapar; Uoi = rotan; Boyod = tikus; Bonok = rumput.
Mokodoludut adalah punu’ Molantud yang diangkat berdasar kesepakatan seluruh bogani. Dalam sejarah pemerintahan di Bolaang Mongondow, Mokodoludut tercatat sebagai raja (datu yang pertama di Bolaang Mongondow, walaupun penggunaan istilah datu atau raja mulai dikenal sejak raja Tadohe (Sadohe) yang memerintah pada tahun 1602 karena pengaruh istilah luar, ratu, datu atau latu, yang berarti raja.
Sebelum Tadohe, setiap pimpinan tertinggi pemerintahan yang diangkat dari keturunan Mokodoludut selalu digelar Punu’ Molantud atau Tule Molantud atau Tomunu’on. Sejak Mokodoludut memerintah, masyarakat mulai mengenal kesenian antara lain seni sastra, yaitu itu-itum, semacam do’a yang diucapkan misalnya pada pelantikan Punu’ Molantud atau pejabat tinggi lainnya. Juga Odi-odi, semacam sumpah, serta jenis vokal antara lain totampit, yaitu sastra bermelodi yang dilagukan oleh para bogani atau oleh penduduk yang pergi ke rantau memasak garam, ke hutan mencari damar dan lain-lain, karena mereka harus menempuh karak jauh dengan berjalan kaki.
Salahsatu sastra lagu aimbu yang dinyanyikan oleh orang tua angkat Mokodoludut, yaitu Kueno dan Obayow adalah :
Ki Inalie no puyut = Inalie yang memungut
Ki Amalie notompunuk = Amalie yang memangku
Notakoi kon loto lanut = dimasukkan dalam lanut
Pitu no singgai no uput = tujuh hari genap
Dinongog mai nogolotup = terdengar bunyi meletus
Sinarap bo sinondudut = dilihat dan diteliti
Na’anta umatbi’ alus = ternyata mahluk halus
Nobiag moyutu-yutuk = hidup tubuhnya kurus
A mongula mokitayuk = ingin diobati (monayuk)
Moki aimbu no uput = dengan cara aimbu lengkap
Na’a bo inaidan no uput = kini selesai dikerjakan
Tangoimu ing ki Mokodoludut = namamu adalah Mokodoludut.

Sumber: http://www.geocities.com/potabalink.htm

2 Tanggapan

  1. galiii teruuus sejarah kota kita…

  2. Memang torang pe sejarah ni dia pe banyak kote…mar banyak yang bulum talalu tau,,,,^_’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: