Pertanian masih Primadona di Bolaang Mongondow

Pertanian merupakan salah satu keunggulan negara kita yang merupakan negara agraris. Alam Indonesia yang subur merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sektor pertanian menjadi unggulan yang memacu pertumbuhan ekonomi terutama didaerah-daerah yang masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencarian penduduk di daerah tersebut. Demikian pula halnya dengan Kabupaten Bolaang Mongondow yang secara geologis memiliki tanah yang subur dengan segala tanaman yang menghasilkan berbagai hasil bumi untuk menghidupi masyarakat di daerah tersebut. Sejak awal sektor pertanian menjadi primadona di Kabupaten Bolaang Mongondow disamping sektor-sektor lainnya seperti pertambangan dan jasa.

Bolaang Mongondow merupakan "Lumbung Beras" Prop. SULUT

Bolaang Mongondow merupakan “Lumbung Beras” Prop. SULUT

Kabupaten Bolaang Mongondow merupakan Lumbung Beras dari Propinsi Sulawesi Utara karena produksi pertanian padi sawah yang melimpah. Berdasarkan data dari BPS (2006) ditunjukkan dengan poduksi luas panen padi sawah dari 49.238 Ha pada tahun 1999 meningkat menjadi 52.036 pada tahun 2006. Demikian pula dengan jumlah gilingan padi yang meningkat dari 561 buah pada tahun 2002 menjadi 599 buah pada tahun 2004. Indikasi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan penyumbang yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bolaang Mongondow.

Beberapa sektor selain pertanian juga turut menyumbang bagi peningkatan ekonomi, namun bagaimana perannya terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bolaang Mongondow secara keseluruhan. Perkembangan investasi pada sektor pertambangan yang terjadi selang beberapa tahun belakangan ini ikut membantu dalam hal peningkatan ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow. Seberapa besar peran sektor-sektor lain dalam hal peningkatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bolaang Mongondow, apakah sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi dan bagaimana pertumbuhan ekonomi sekarang dibandingkan dengan sebelumnya.

Penggunaan lahan di Kabupaten Bolaang Mongondow didominasi oleh hutan Negara seluas 309.050 Ha ; sedangkan yang terkecil adalah penggunaan lahan untuk kolam/tebat dan empang seluas 2.573 Ha.

padi-12

Dalam mengkaji perekonomian suatu wilayah, hal yang pertama perlu dilihat adalah struktur perekonomian wilayah tersebut. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bolaang Mongondow tahun 2003, struktur perekonomian kabupaten dapat diketahui. Sektor primer memegang peranan penting dalam perekonomian Kabupaten Bolaang Mongondow, terutama tanaman bahan makanan dengan kontribusi sebesar 20,71% terhadap total PDRB kabupaten, dan sektor tanaman perkebunan sebesar 15,11%. Peran sektor pertanian ini kemudian diikuti oleh jasa pemerintahan umum, yakni sebesar 20,44%. Hal ini berarti bahwa hingga saat ini Kabupaten Bolaang Mongondow banyak bergantung pada ketiga sektor tersebut dalam menjalankan roda perekonomian. Faktor pengeluaran pemerintah pun (government expenditure) merupakan faktor penting sebagai penggerak ekonomi Bolaang Mongondow. Namun untuk memastikan bahwa apakah ketiga sektor tersebut benar-benar merupakan sektor unggulan di Kabupaten Bolaang Mongondow saat ini dan masa depan masih memerlukan analisa lebih lanjut.

Berdasarkan rumus di atas, maka diperoleh nilai LQ dari tahun 2001-2004 untuk sektor basis yang merupakan penggerak utama pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bolaang Mongondow ada 3 (tiga) sektor yaitu :

a. Sektor Pertanian

b. Sektor Keuangan

c. Sektor Jasa-jasa

Berdasarkan data LQ di atas, sektor pertanian sampai tahun 2004 masih merupakan Sektor Basis yang merupakan penggerak pertumbuhan ekonomi wilayah di Kabupaten Bolaang Mongondow. Selain Sektor Pertanian, sektor basis lainnya adalah Sektor Keuangan dan Jasa-jasa. Kedua sektor tersebut juga merupakan prasyarat agar pertumbuhan ekonomi dapat meningkat.

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi unggulan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah di Kabupaten Bolaang Monngondow. Sektor-sektor lain yang menunjang pertumbuhan ekonomi selain pertanian adalah sektor keuangan dan jasa. Sektor pertanian merupakan sektor basis karena sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani. Sektor keuangan merupakan sektor basis juga karena aktifitas keuangan dari Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow sebagai penggerak perbankan dan jasa-jasa keuangan lainnya. Sebagai akibatnya maka terjadilah peningkatan aktivitas perekonomian di daerah Kabupaten Bolaang Mongondow. Tarikan Investasi juga merupakan penggerak sektor keuangan di Kabupaten Bolaang Mongondow yang memicu terjadinya peningkatan pada sektor jasa baik pada Pemerintah daerah maupun swasta.

Kecenderungan pertumbuhan sektor keuangan yang meningkat maka diperkirakan di masa yang akan datang peran sektor keuangan pun akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi lebih baik. Hal ini merupakan pertanda positif mengingat sektor ini merupakan salah satu prasyarat apabila perekonomian suatu wilayah ingin berkembang.

Demikian pula halnya dengan sektor pertanian yang merupakan ekonomi basis yang nantinya akan mendorong sektor ekonomi non basis seperti tenaga kerja, penyediaan saprotan, pembibitan dan lain-lain sehingga menimbulkan multiplier efek yang mampu meningkatkan sektor ekonomi lain dalam hal peningkatan pendapatan rata-rata bagi penduduknya.

Pengertian Airsoft Gun

Pengertian Airsoft secara umum adalah kesenangan/hobby mengumpul kan atau mengkoleksi senjata tiruan (replika). Pada dasarnya, kesenangan ini dimulai dari Amerika tetapi kemudian justru berkembang pesat di Jepang, Hongkong Taiwan dan Korea. Perkembangan pesat di Asia tersebut didukung oleh pesatnya perkembangan industri airsoft dan kolektor/hobbyist disana. Pada awalnya, senjata yang dikumpulkan adalah senjata yang tidak dapat digunakan atau hanya tiruan belaka, bahkan ukurannyapun beragam, waktu itu sepertinya kurang tepat juga untuk dapat dikatakan sebagai replika/tiruan. Baik dari bentuk, ukuran, berat maupun fungsi. Dalam perkembangannya, airsoft berkembang hingga dapat meniru bentuk dan tekstur aslinya, dan juga memiliki ukuran yang identik (1:1) dengan senjata api sebenarnya. Senjata mainan ini terbuat dari plastik kualitas tinggi. Pada perkembangannya senjata mainan yang dibuat menggunakan bahan ABS Resin/ABS Plastics dan juga menggabungkan asesoris dan part dari bahan logam. Bahkan, senjata mainan jenis terakhir telah tersedia dalam bentuk dan fitur yang full metal!! Senjata mainan ini mulai dapat memuntahkan proyektil peluru tiruan yang terbuat dari plastik berukuran 6mm. Berbentuk bulat, dan memiliki berat mulai dari .10gr s/d .45gr. Peluru .10gr banyak digunakan pada senjata mainan type lama yang memiliki tenaga (power) yang kecil, sedangkan type peluru .10gr s/d .25gr adalah peluru yang lazim digunakan dengan senjata mainan yang beredar sampai saat tulisan ini dibuat. Type peluru .30gr s/d .45gr biasanya terbuat dari material plastik khusus atau logam, biasanya digunakan pada senjata mainan yang telah dimodifikasi/di-upgrade.

Skirmish di Politeknik Semarang

Skirmish di Poiteknik Semarang

Produsen mainan di Asia adalah produsen airsoft yang pertama kali mengembangkan sistim pegas untuk melontarkan peluru 6mm tersebut. Senjata yang pertama kali dibuat terbatas pada jenis pistol saja dan hanya dapat menembakan satu peluru saja per-tembakan. Saya sendiri pertama kali memiliki senjata jenis ini sekitar tahun 1987. Senjata mainan jenis Smith & Wesson 9mm seperti dipakai dalam film Miami Vice ini membuat saya jatuh cinta kepada kemiripan dan kemampuan dan juga kesenangan dalam memainkan atau menimangnya. Senjata mainan sistim pegas ini kemudian mulai banyak beredar di toko-toko mainan dan banyak dibeli oleh anak-anak maupun orang dewasa baik di Amerika, Asia, Eropa dan bahkan di Indonesia sendiri. Jenisnyapun semakin beragam, kita dapat menemukan Colt 45, Smith & Wesson, Beretta, Dessert Eagle, Cougar, dll. Jenis-jenis pistol terkenal seperti Walther, Glock dan H&K USP tidak ditemui pada saat ini. Pada akhir 97-an, senjata mainan tersebut berkembang lagi. Tidak hanya pistol saja, tetapi jenis-jenis senapan ringan otomatis (SMG – Small Machine Gun) maupun senapan serbu (Rifles). Saat itu jenis-jenis senjata seperti H&K MP5-A3, M-16 A1, Scorpion, UZI, Ingram dan Urchin Extra (???) beredar juga di Indonesia. Pada era tersebut pula perkembangan airsoft semakin pesat hingga dapat menggunakan gas khusus (CFC/HFC) sebagai tenaganya. Konsep gas ini sebenarnya meniru sistim senjata gas (airgun) yang sebenarnya, tetapi hanya menggunakan type gas khusus bertekanan rendah hingga hanya dapat memuntahkan peluru plastik 6mm tersebut. Airgun yang sebenarnya (pistol angin/gas) bisa menembakan peluru logam dengan bentuk dan ukuran yang sama. Jenis-jenisnyapun semakin berkembang, saat itu beragam jenis pistol dan senapan mesin ditemukan menggunakan sistim gas ini, sayangnya untuk senapan mesin cenderung menjadi tidak realistik karena jika jenis pistol menggunakan magazine sebagai tempat penyimpan gas-nya, type senapan mesin justu menggunakan pipa yang terhubung pada tabung gas! *seperti pada kompor* X-) Senjata mainan era akhir 90-an ini semakin canggih, realistik dan bertenaga. Dari segi beratpun semakin mirip dengan berat senjata aslinya. Bahkan semakin realistik dengan adanya penerapan sistim blowback(*) yang memberikan hentakan yang cukup besar ketika menembakkan senjatanya. Akurasi penembakanpun semakin baik dengan berkembangnya sistim Hop-Up(*) yang membuat peluru dapat meluncur lurus pada jarak yang lebih jauh. Lalu sistim penembakannya-pun semakin baik, untuk beberapa type pistol bahkan dapat memuntahkan peluru secara otomatis, seperti pada senapan mesin yang sebenarnya. (*) Lihat Airsoft F.A.Q. Jika pada jenis-jenis awal jarak efektif berkisar antara 5m s/d 10m jenis senjata mainan saat ini bisa mencapai jarak efektif 30m! Type yang dimodifikasi dapat meluncur efektif sampai jarak 50m!!! Rata-rata jarak efektif senjata mainan jenis pistol berkisar s/d 10m dan untuk jenis senjata mainan terakhir yang menggunakan tenaga elektrik, jenis senapan mesin ringan (SMG), senapan serbu (rifles) berkisar s/d 20m dan senapan jenis sniper s/d 30m. Kecepatan peluru rata-rata berkisar antara 250fps (feet per-second) untuk type awal hingga 550fps type terakhir (kecepatan 350 fps keatas biasanya merupakan hasil modifikasi dan rata-rata dilarang di banyak negara). Jika saya coba konversikan, kecepatan peluru 250fps kira-kira sekitar 75m/detik dan kecepatan 350fps (kecepatan yang lazim untuk type-type senjata mainan saat tulisan ini dibuat) kira-kira sekitar 105m/detik! Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi, senjata mainan ini-pun semakin berkembang lagi dengan mulainya penerapan teknologi elektronik pada senjata mainan. Dengan menggunakan komponen elektronik, dan tenaga listrik (tentunya) dan juga dengan part yang semakin canggih. Senjata mainan jenis ini biasa disebut AEG (Automatic Electric Gun). Senjata mainan ini dapat memuntahkan peluru secara otomatik dan elektronik! Senjata mainan jenis inilah yang dapat mencapai jarak efektif yang lebih jauh dan kecepatan yang lebih cepat seperti dijelaskan di atas.

100_2020Senjata jenis AEG ini biasanya menggunakan batere 8.4v s/d 12v (modifikasi) dengan kapasitas 600mAH s/d 3000mAH (modifikasi). Jenis batere yang lazim digunakan adalah jenis NiCD (seperti pada radio control) 8.4v s/d 9.6v dengan kapasitas standard 600mAH s/d 1300mAH. Dengan tampilan yang sangat realistis dan akurat (jenis terakhir bahkan terbuat dari bahan logam), dan juga berat yang mirip senjata aslinya, rata-rata sekitar 70% s/d 80% atau 98% s/d 102% (untuk type full metal) dari berat senjata asli, kecepatan penembakan peluru yang juga semakin baik, juga sistim penembakan (trigger) yang juga menyerupai aslinya, membuat airsofting menjadi sesuatu yang menyenangkan. Menyenangkan untuk dilihat, dipegang, ditimang, dipajang atau untuk dirawat/dipelihara. More Powerfull, More Accurate, More Realistic, MORE FUN! Kesenangan-pun semakin sempurna jika Anda menyukai aktivitas luar ruang (outdoor activity)! Airsoft gun Anda dapat digunakan sebagai sarana pelepas stress dengan bermain perang-perangan (skirmishing) dengan rekan-rekan Anda lainnya. Dress, acts, looks and play likes an Armed Forces or Law Enforcements do! (more on Airsoft Skirmishing Articles) GO! GO! GO!!!

Written: by Reichfuehrer

Dewan Bolmong Mulai Diperiksa

Bolmong, 7 Pebruari 2009

MANADO- Pemeriksaan terhadap anggota Dewan Bolmong terkait dugaan penyalahgunaan dana Persibom 2006 mulai dilakukan kemarin. Jemmy Tjia dan Herson Mayulu, masih tercatat sebagai personil Dekab Bolmong, serta  Jemmy Lantong (sudah di-PAW), mendapat nomor antrian perdana. Ketiganya mulai diperiksa penyidik Tindak Pidana Korupsi (TPK) Polda Sulut sekitar pukul 08:30 Wita, di ruangan Sat 3 Ditreskrim Polda Unit 3. Jemmy cs diperhadapkan 17 pertanyaan terkait mekanisme penganggaran Persibom yang dilakukan Dekab Bolmong 2006. Kurang lebih 3 jam mereka dimintai keterangan.
Usai menjalani pemeriksaan, kepada wartawan Manado Post Herson Mayulu mengaku dirinya diperiksa sebagai saksi. Oku sapaan akrab Herson menambahkan, sewaktu pemeriksaan dirinya disodorkan 17 pertanyaan terkait dana Persibom. “Saya hanya membahas anggaran Persibom yang bernilai Rp7 miliar,” ujar Wakil Ketua Dekab Bolmong ini sembari menaiki mobil plat merah Nopol: DB 7 D.
30 menit kemudian, Jemmy Lantong terlihat keluar ruangan pemeriksaan. Ketika melihat wartawan, Jemmy langsung cepat-cepat meninggalkan Mapolda Sulut melalui pintu belakang. Saat ditanya apa pertanyaan penyidik, Papa Miti panggilan Jemmy, hanya menjawab nanti saja. “Saya mau Sholat dulu, nanti balik,” ujarnya.
Selang 15 menit kemudian, Wakil Ketua Dekab Bolmong Jimmy Tjia keluar dari ruangan yang sama. Seperti Lantong, Tjia yang menggunakan mobil kijang Nopol: DB 2556 F, memilih untuk tidak menjawab apa yang terungkap dalam pemeriksaan tersebut. “Saya dipanggil sebagai saksi. Dan diperiksa dari pukul 08:30 Wita,” ujarnya sembari memohon pamit untuk Sholat. (cw-06)

Sumber: Manado Post, 2009

Ruang Terbuka Hjau di Kota

Pertumbuhan Penduduk dan Perubahan Fungsi Lahan
Pertumbuhan penduduk yang begitu cepat dan pesat terutama kota-kota besar di Indonesia. Kota-kota ini bak memiliki kutub magnet yang menarik bagi orang-orang baik penduduk sekitar kota tersebut maupun penduduk dari daerah lain untuk datang dan berusaha di kota-kota tersebut. Pada dasarnya pertumbuhan penduduk di kota tidak hanya karena adanya pertambahan karena masuknya penduduk dari luar kota, tetapi ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Menurut Tarigan, Robinson (2005 ; 198), perubahan jumlah penduduk disebabkan oleh, pertama, pertambahan dan pengurangan secara alami (kelahiran dan kematian), kedua, migrasi masuk dan migrasi keluar, dan ketiga, perubahan batas administrasi wilayah yaitu pengurangan (abandonment) di satu pihak dan penambahan (annexation) di lain pihak. Pertumbuhan penduduk yang sangat dramatis di Indonesia atau dapat kita sebut sebagai Ledakan Penduduk (Prof. Ir. Sidharta, 1983 dalam Budihardjo, Eko. 2006 ; 189), dimana pertumbuhan penduduk rata-rata di Indonesia yang masih di atas angka 2% menimbulkan berbagai masalah bagi kota-kota di Indonesia. Menurut Sidharta, pertumbuhan populasi, penyebaran struktur umur penduduk dan hal lain yang menyangkut demografi menyebabkan perubahan penggunaan ruang sebagai sumber alam di kota.
Adanya pertambahan populasi sudah tentu diikuti oleh kebutuhan akan ruang (lahan) di kota. Perubahan lahan ini disebabkan karena adanya kebutuhan yang meningkat akan perumahan/permukiman, tempat usaha (ekonomi), sosial dan lain sebagainya. Kebutuhan akan lahan ini mengakibatkan terjadinya pergeseran peruntukan/guna lahan (land use) yang mengakibatkan masalah lain bagi kota, dimana dari lahan biasa (terbuka) menjadi lahan terbangun. Pada dasarnya perubahan fungsi lahan menjadi lahan terbangun tersebut sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan akan aktifitas manusia yang menempatinya. Namun, jika perubahan guna lahan ini tidak dibarengi dengan pengendalian dan pengawasan dari pemerintah, maka akan menurunkan kualitas lahan dalam hal daya dukung terhadap sumber-sumber alam yang berguna bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lain. Sumber-sumber alam tersebut akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali, sehingga sudah tentu menyebabkan kesenjangan lingkungan dalam kota.
Isu-isu Lingkungan
Menurut Wiradisuria, Rachmat 1983 (dalam Budihardjo, Eko. 2006 ; 119), bahwa pengadaan perumahan/permukiman untuk menampung jumlah penduduk yang bertambah dengan pesat tadi memerlukan pengembangan luas areal pemukiman/ perumahan yang pesat pula. Perluasan areal (lahan) untuk pemukiman dan perumahan ini mengakibatkan terjadinya pengubahan lingkungan (fisik) alam yang semula dapat berfungsi menyerap air kepada suatu lingkungan buatan yang mampu menolak penyerapan. Lingkungan buatan (built-environment) selain berguna bagi manusia namun apabila tidak direncanakan dengan baik, maka dapat berubah menjadi ancaman bagi kehidupan manusia, terutama di kota-kota dimana sebagian besar penduduk tinggal dan menjalani kehidupan ekonomi dan sosialnya dalam lingkungan buatan yang terbangun. Perubahan lahan selain memiliki dampak menguntungkan (positif) dari sisi ekonomi namun juga menimbulkan masalah lingkungan (negatif), hal ini terjadi apabila perubahan fungsi dari lahan konservasi atau lahan terbuka yang memiliki fungsi ekologis menjadi lahan terbangun (ditutupi bangunan). Sehingga fungsinya menjadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Perubahan negatif ini sudah tentu sangat merugikan bagi manusia. Dampak fisiknya adalah munculnya bencana alam (banjir dan sebagainya) akibat dari berkurangnya fungsi daya dukung ekologis lahan tersebut.
Penyebab banjir di Jakarta lebih besar karena perilaku manusia. Bahkan penyebab banjir bukan kerusakan di hulu sungai namun karena run off yang tidak terkendali. Perubahan fungsi lahan telah menyebabkan jumlah run off melebihi kemampuan menyerap dan mengalirkan air, selama ini perubahan guna lahan terjadi di hilir. Perubahan lahan dari hutan menjadi padang rumput menambah run off antara 10 sampai 15 persen. Sedangkan mengubah hutan menjadi kota menambah run off sampai 90 persen (Kusumawijaya, Marco dalam Sutanta, Hari ; 2007). Selain banjir, berbagai masalah lingkungan muncul akibat dari perubahan fungsi lahan dan berkurangnya daya serap air sehingga meningkatkan volume air permukaan kemudian diikuti oleh bencana erosi dan longsor. Selain itu karena ruang terbuka yang berfungsi sebagai penangkap air telah ditutupi oleh ”bangunan”, maka daya dukung terhadap ketersediaan air tanah di kota-kota menjadi berkurang. Dampaknya terjadi krisis air tanah akibat kurangnya persediaan. Ketika terjadi perubahan lahan terbuka menjadi lahan terbangun tanpa perencanaan yang baik dan pengawasan yang kontinyu, maka saat itu mulailah bermunculan masalah-masalah lingkungan yang berakibat kerugian bagi manusia.

Ruang Terbuka Hijau
Telah disebutkan bahwa perubahan guna lahan dari ruang terbuka menjadi ruang terbangun dapat menyebabkan dampak lingkungan menempatkan Ruang Terbuka pada posisi penting dalam menjaga lingkungan di kota. Ruang terbuka secara hirarkis terdiri atas Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Terbuka non-Hijau. Secara mendalam kita hanya membahas mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH) karena dampaknya yang begitu besar dalam menjaga dan mengendalikan fungsi ekologis kota. Adapun RTH dimaksud berupa taman kota, jalur hijau jalan, hutan kota/kebun raya, hutan mangrove (kota pesisir), lapangan olahraga, taman/hutan bantaran sungai dan sebagainya. RTH selain berfungsi untuk menyerap air (hujan) dan air permukaan, juga mampu berfungsi sebagai penyerap panas dan cahaya (silau). Rumput misalnya, mampu menyerap 80% panas dan hanya memantulkan 20% sisanya saja kepada lingkungan sehingga dapat menurunkan suhu di perkotaan (Frick & Mulyani, 2006 ; 44). Selain itu juga RTH dapat menurunkan polusi udara kota, setiap pohon misalnya dapat menyerap CO2 dan menyediakan 1,2 Kg O2/hari. Sehingga menunjang kebutuhan ketersediaan oksigen untuk bernapas bagi penduduk kota dan mengurangi dampak akibat karbondioksida yang merugikan kesehatan. Secara garis besar Purnomohadi, Ning ; 2007, menyebutkan bahwa fungsi ideal penyelenggaraan RTH di perkotaan adalah :
– sebagai identitas (bio-geofisik) kota
– upaya pelestarian plasma nuftah
– penahan dan penyaring partikel padat dari udara
– mengatasi genangan air
– produksi (terbatas)
– ameloriasi iklim
– pengelolaan sampah
– pengelolaan sampah
– pelestarian air tanah
– penapis cahaya silau
– meningkatkan keindahan
– habitat flora/fauna
– mengurangi stress
– mengamankan pantai terhadap abrasi
– meningkatkan industri pariwisata
– lokasi evakuasi terhadap bencana.

index_main01

Menurut Undang-undang Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007, disebutkan dalam pasal 28 tentang rencana untuk penyediaan RTH di wilayah kota. Kemudian pada pasal 29 menegaskan bahwa proporsi minimal RTH adalah 30% dari luas wilayah kota, dimana terdiri dari 20% untuk RTH Publik dan 10% untuk RTH Privat. Hal ini jelas bahwa penyediaan RTH juga diatur dengan undang-undang yang ”wajib” dilaksanakan oleh penguasa (gubernur/bupati/walikota) atau perencana kota demi kelestarian lingkungan dan kenyamanan hidup dalam kota itu sendiri. RTH bukan hanya sebagai taman kota, lebih dari itu dapat juga menjadi tempat bermain, berkumpul dan bersosialisasi bagi masyarakat kota sehingga terjadi hubungan atau interaksi sosial dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat dalam suatu kota. RTH menjadi milik semua kalangan baik dari kelas bawah, menengah maupun atas, sehingga meniadakan kelas sosial dalam masyarakat kota karena adanya pembauran yang terjadi dalam RTH. Hal ini dapat mencegah terjadinya konflik sosial akibat dari kesenjangan ekonomi.

Kemana RTH Kota?
Seberapa besar kepedulian kita akan pentingnya RTH dalam kota? Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi semua elemen masyarakat terutama masyarakat kota. Bencana alam yang merupakan peristiwa klise sering terjadi terutama banjir dan longsor yang melanda kota-kota besar di Indonesia menyebabkan kita ”terhenyak” sesaat. Kemana RTH kota yang kita idam-idamkan sebagai penyangga dan penunjang kelangsungan hidup kota? Sebagian besar kota-kota di Indonesia masih menganggap remeh keberadaan RTH. Perubahan lahan yang terjadi akibat meningkatnya kebutuhan lahan terbangun mengesampingkan kebutuhan lain untuk RTH. Pemerintah kota pada dasarnya masih banyak yang masih mementingkan sisi ekonomis lahan kota sebagai penunjang PAD kota, di sisi lain kepadatan pemukiman/perumahan, kawasan industri, dan pusat ekonomi/jasa serta pemerintahan telah ”memakan” sejumlah lahan yang mulanya sebagai berfungsi sebagai RTH. Akibatnya proporsi RTH semakin lama semakin berkurang yang mengakibatkan environment-crisis dalam wilayah perkotaan. Kecenderungan perkembangan ini dapat kita lihat pada kondisi kota-kota besar di Indonesia dimana pemda maupun pemkot masih menganggap ”sepele” penyediaan lahan untuk RTH.
Harusnya kita berkaca pada kota-kota besar yang ada di luar negeri, betapa mereka sangat mementingkan kelestarian RTH di sana. Singapura contohnya, dimana Pemkot Singapura mensyaratkan penyediaan RTH dengan syarat-syarat ketat dan pengawasan melekat pada kawasan-kawasan terbangun dalam kota. Demikan pula halnya dengan negara tetangga Malaysia, dengan Putrajaya-nya. Bahkan beberapa kota di dunia menjadikan RTH sebagai daya jual kotanya dengan trend Garden City (New York, USA), atau City in a Garden (Melbourne, Australia).
Sekarang adalah saatnya kita ”bangkitkan” semangat untuk melestarikan dan merevitalisasi RTH dalam kota kita. Bukan semata-mata untuk mengikuti trend dunia, namun lebih dari itu untuk menjaga kelangsungan ekosistim dan meningkatkan kualitas lingkungan yang nanti akan menopang kenyamanan hidup manusia terutama di kota. Jangan sampai nanti kita mendongeng kepada anak cucu kita bahwa disini, di kota ini dulu pernah ada taman yang nyaman dan hijau – sekarang jadi gedung pencakar langit.

DAFTAR PUSTAKA

Frick, Heinz & Mulyani, Tri Hesti, 2006. Arsitektur Ekologis, Penerbit Kanisisus – Yogyakarta & Soegijapranata University Press – Semarang

Kusumawijaya, Marco dalam Sutanta, Hari, 2007. Berita Bumi, Artikel : Alih Fungsi Lahan Sebabkan Banjir di Jakarta. http//www.berita-bumi/ bencana_alam_dan_lingkungan.htm. Senin, 27 Agustus 2007. Jakarta

Purnomohadi, Ning. 2007. Materi Seminar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau di Samarinda. Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Dirjen Cipta Karya Dep. PU RI. Jakarta.

Sidharta, Prof.Ir, 1983. Makalah Diskusi Panel : Rumah Susun ditinjau dari Segi Ekologi. Semarang, dalam Budihardjo, Eko. Prof.Ir. M.Sc. 2006. Sejumlah Masalah Pemukiman Kota. Penerbit PT. Alumni. Bandung

Tarigan, Robinson, Drs. M.R.P. 2005. Perencanaan Pembangunan Wilayah, Edisi Revisi. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta

Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2007, Tentang Penataan Ruang. Jakarta

Wiradisuria, Rachmat, Ir. 1983. Makalah Diskusi Ilmiah Ikatan MAI : Pemukiman dan Lingkungan Hidup. Bandung, dalam Budihardjo, Eko. Prof.Ir. M.Sc. 2006. Sejumlah Masalah Pemukiman Kota. Penerbit PT. Alumni. Bandung